Pihak PT KAI sebenarnya rutin memberikan sejumlah uang, namun tidak banyak. Sehingga, kebanyakan dari penjaga palang pintu liar ini memiliki pekerjaan lain demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.Â
Perlu Perhatian Lebih dari PemerintahÂ
Perlintasan sebidang yang dijaga oleh Suryono dan teman-temannya merupakan perlintasan yang telah ada sejak tahun 1989. Setiap harinya, banyak kendaraan yang melewati perlintasan ini karena mudah untuk diakses.
Mengingat perlintasan ini sudah dibuka sejak lama dan menjadi akses penting bagi masyarakat sekitar dalam melakukan mobilisasi setiap harinya, maka sudah seharusnya perlintasan sebidang tidak resmi ini untuk segera diubah menjadi perlintasan sebidang yang resmi. Hal ini penting dan memang memungkinkan untuk dilakukan demi menjaga keselamatan para pengendara dan kelancaran perjalanan kereta api itu sendiri.Â
Selain itu, nasib para penjaga palang pintu liar ini juga tetap harus dipikirkan. Mempertimbangkan jasa yang mereka lakukan bagi masyarakat, sudah selayaknya mereka mendapatkan upah yang layak sebanding dengan resiko yang mereka hadapi.Â
Bekerja secara SukarelaÂ
Setiap harinya, Suryono dengan teman-temannya 24 jam bergantian menjaga palang pintu perlintasan sebidang liar ini. Mereka dengan sukarela bekerja sama mengamankan para pengendara agar bisa melintas dengan aman.Â
"Kita 24 jam, hujan panas resiko, harus dijaga untuk mengamankan dan memberikan rasa aman buat pengendara," tutur Suryono. Â
Bagaimana Suryono dengan ikhlas dan sukarela menjaga palang pintu liar ini dapat menjadi sebuah pelajaran bagi kita untuk bisa lebih menghargai mereka yang memberikan manfaat bagi masyarakat tapi kadang terlupakan, dan tentunya pemerintah beserta pihak-pihak terkait juga lebih memberikan perhatian mengenai hal ini.Â
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H