Rakyat masih terus dibebani pekerjaan, menata terus menerus perasaan dan kesabaran serta kebesaran hati untuk menghadapi sendiri kenyataan hidupnya. Termasuk menghadapi aneka bentuk dan wajah teror.
Para pemimpin politik lebih cenderung menyuarakan kepentingan kelompoknya, ketimbang kepentingan bangsa, sehingga dalam skala tertentu kekerasan dan penindasan atas hak orang lain seolah sah saja dilakukan.
Inilah ironi reformasi. Para elite berjalan sendiri melampiaskan nafsu politiknya dengan cara memperalat rakyat. Mereka menghujat, mencaci, bahkan menyerang membabi-buta utuk memaksakan kehendak.
Apa pun alasannya, korban sudah jatuh. Luka hati keluarga, kerabat, dan mereka yang memiliki naluri kemanusiaan, takkan bisa disembuhkan oleh penghukuman seberat apa pun atas pelakunya.
Semua cuma bisa berharap insiden macam ini tidak terulang lagi, sebagaimana ketika kita berharap sesudah bom di Bali, di Jakarta, di Tentena, dan entah di mana lagi...
Selamat jalan Olivia sayang. Maafkan kami tak mampu melindungimu.
Berbahagialah nak, Tuhan menemanimu bermain di sorgaNya. **
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H