Bapak punya tanggung jawab, begitu juga dengan umat. Saat masing-masing melakukan perannya dengan baik tentu persekutuan akan menjadi indah, kuat, solid, dan diberkati Tuhan. Solidnya luar dalam ya, Pak. Bukan hanya yang 'bisa dilihat mata jasmani' saja. Yang kelihatan mata itu fana, Pak. Bisa hanya sandiwara, bisa hanya tipuan.
Kesetiaan yang Bapak tuntut lewat kehadiran di 'setiap' kegiatan itu seakan membuka pintu celah 'kemunafikan'. Entah apa isi hati umat yang hadir di kegiatan-kegiatan tersebut. Mungkin isinya begini:
- Nih, lihat, saya bisa setia hadir dan tepat waktu. Tidak seperti si Anu.
- Sabarlah hai jiwaku, ini hanya sekedar rutinitas.
- Daripada dibilang begini begitu oleh si Anu lebih baik datang saja.
Kalau begitu apa pendapat saya pribadi?
Ini pendapat saya:
- Saya punya hak dan kewajiban untuk setia kepada Tuhan karena Tuhan lebih dulu mengasihi saya.
- Apa yang saya lakukan adalah bentuk kasih kepada Tuhan dan persekutuan. Bukan karena paksaan atau seakan di bawah 'ancaman' berkedok pengajaran Firman Tuhan. Bentuk tindakan sebagai bukti mengasihi Tuhan berwujud apa, itu urusan pribadi saya dengan Tuhan. Laporan saya kepada Tuhan, bukan kepada manusia.
Ah, tapi sudahlah. Entah kapan akan Bapak baca tulisan ini. Semua tulisan ini seakan sia-sia. Tapi ini cara yang saya pilih untuk mengungkapkan kegelisahan hati. Seperti kata-kata para penulis: setiap tulisan akan menemukan pembacanya sendiri. Semoga Bapak membacanya pada saat yang tepat menurut waktu Tuhan. Tuhan memberkati pelayanan Bapak dan keluarga. Amin.
Sekian.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI