Kembali ke staf yang mengerjakan laporan tadi. Ada dua pelajaran penting yang saya petik.
1. Saya underestimate dalam menilai orang.
Potensi seseorang akan muncul dan terlihat jika dia diberi kesempatan. Selama dia dibawah bayang-bayang orang lain, kemampuannya tak akan terlihat. Kehebatan seorang staf dalam mengerjakan tugas terkadang menutup penilaian saya, bahwa ada staf lain yang juga bisa mengerjakan tugas yang sama.
Ketidakhadiran staf yang terbiasa membuat laporan pekerjaan, menciptakan kesempatan yang tak disengaja bagi staf lain untuk menunjukkan kemampuannya.
Memang, pada saat saya memberikan tugas kepada orang lain, karakternya harus sayadikenali. Apakah dia tipe pendiam atau suka ngobrol. Apakah pekerjaannya harus sekali-kali dilihat atau menunggu dia bertanya karena ada kesulitan.
Ada tipe orang yang kalau diberi tugas, dia terlihat grogi bila pekerjaannya bolak balik dilihat, ditanya sudah sampai dimana? Ada masalah nggak? Perlu data apa lagi? Pertanyaan itu justru akan membuat dia lebih lama menyelesaikan pekerjaannya.
Tapi bila tugas yang harus dikerjakan saya beritahukan di awal dan dia paham, selanjutnya saya serahkan sepenuhnya kepada dia. Biarkan dia yang berkreasi dengan pemikirannya. Tak perlu diganggu dengan sering bertanya atau bolak-balik dilihat pekerjaannya.
2. Saya terlalu bergantung pada satu orang.
Percaya pada seseorang itu perlu, tapi jangan bergantung padanya. Seolah-olah kalau tidak ada dia, pekerjaan jadi macet karena tidak ada orang lain yang menggantikan.
Kemampuan staf yang saya ceritakan di atas, membuka mata saya bahwa selama ini saya terlalu bergantung pada seseorang. Terlalu mengandalkan pada kemampuan dan keterampilannya, sehingga tidak melihat ada staf lain yang juga punya potensi.
Tingkat ketergantungan yang perlu dikoreksi, karena menutup peluang orang lain untuk menunjukkan kemampuannya. Juga mempersempit kesempatan staf lain untuk unjuk gigi.