1. Menerima Kehadirannya.
Alih-alih menghindari, sebaiknya Si Jarkoni ni kita terima kehadirannya sebagai bagian dari masyarakat, karena sampai kapanpun dan dimanapun kita akan bertemu dengan orang tipe semacam ini. Kehadiran Si Jarkoni ini setidaknya bisa menjadi alarm pengingat bagi kita dalam bertindak, bertutur dan berfikir di kemudian hari. Penerimaan juga sejatinya akan mereduksi kebencian yang ada pada diri kita terhadap orang tersebut.Â
2. Dengarkan Nasihatnya
Si Jarkoni selalu memiliki segudang nasihat bijak untuk kita simak. Apa yang  diucapkan biasanya adalah sesuatu yang benar, karena ia sangat kaya dalam berteori. Meskipun sangat pedih dan kadang membuat jengkel tetapi cobalah ambil sisi positif dari nasihatnya itu.Â
3. Beri Nasihat Balik di Waktu yang Tepat
Terburu-buru merespons apa yang diucap Si Jarkoni adalah hal yang bodoh. Selain kita masih dikuasai oleh emosi, kata-kata yang kita ucapakan justru dapat menjadi bumerang bagi kita. Sebaiknya tunggulah waktu dan kesempatan yang tepat saat hendak memberinya nasihat, tunggulah hingga ia sedang dalam situasi yang sedang memerlukan pertolongan. Tidak perlu tergesa-gesa.Â
Beberapa poin di atas rasanya bisa menjadi panduan bagi kita tatkala melihat derasnya fenomena jarkoni pada era digital saat ini. Tidak perlu heran dan kaget dengan kehadiran mereka yang dekat dengan kita. Sikapilah dengan bijaksana setiap informasi yang ada di sekitar kita dan tidak terburu-buru untuk meresponsnya. Pikirkanlah dahulu sebelum berucap. Hidupi dan lakukanlah juga apa yang kamu ucapkan, jangan jadi jarkoni!
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI