Kestabilan di balik layar ini lalu hilang ketika Todd Boehly datang. Dengan belum adanya sosok pengganti berkualitas sepadan di balik layar, manuver belanja gila-gilaan klub malah jadi awal bencana.
Memang, ada banyak pemain muda potensial yang bergabung, tapi banyak dari  mereka yang cedera dan belum menemukan performa terbaik. Jangankan Mikhaylo Mudryk, pemain juara Piala Dunia seperti Enzo Fernandez saja terbukti masih kesulitan.
Ditambah lagi, tim ini juga sedang beradaptasi dengan sistem permainan ala Mauricio Pochettino, yang belum lama bertugas. Dengan demikian, kekacauan yang ada benar-benar tak terkontrol.
Alhasil, harapan besar yang hadir bersama gelontoran dana miliaran pounds sejak era Boehly justru membuat tim yang dulunya ambisius jadi terlihat serba seadanya alias medioker. Finis di papan tengah Liga Inggris musim lalu adalah satu hasil paling kelihatan.
Kekacauan ini juga semakin sempurna, karena kebanyakan pemain baru yang ada di tim dikontrak selama 7-8 tahun. Kalau tim dari kota London ini punya kesabaran seperti yang dilakukan Liverpool kepada Darwin Nunez atau Cody Gakpo, mungkin masih ada sedikit harapan.
Tapi, berhubung Chelsea sudah kadung terkenal sebagai tim yang agak kurang sabaran, bukan kejutan kalau bongkar pasang tim ini akan seperti proyek Pantura Jawa yang legendaris: tidak tahu dimana ujungnya, dan akan terjadi di setiap bursa transfer.
Kalau tidak ada perbaikan berarti dalam waktu dekat, mungkin tinggal menunggu waktu saja untuk melihat Chelsea lebih ambyar dari yang kita lihat sekarang.
Tragis!
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H