Di sisi lain, meski berposisi sebagai pimpinan partai, Prabowo pun pasti juga  punya kesepakatan dengan partai pengusung, karena ia tidak bisa maju sendirian.
Maka, dengan ketiga Bacapres ini akhirnya tampil menyampaikan gagasan di muka umum, kita bisa mulai menimbang sebelum memilih, berdasarkan apa yang sudah dihadirkan.
Untuk saat ini, ketiganya masih punya satu PR besar terdekat, yakni terdaftar sebagai capres resmi di KPU. Selama itu belum dipenuhi, mereka tak akan bisa dipilih.
Kalau sudah beres, barulah kita menantikan, kemajuan apa yang nanti hadir di debat resmi KPU. Kalau memaparkan ide dan merespon pertanyaan audiens saja masih belepotan, berarti level kualitasnya memang sudah mentok.
Di sisi lain, gaung Pemilu yang kembali datang juga menyisakan PR besar soal urgensi pendidikan politik di Indonesia.
Dengan kualitas aktual sebagian figur, yang ternyata belum sebagus "hype" nya, sudah saatnya pendidikan politik mulai dibudayakan, supaya tak ada lagi polarisasi di masyarakat setiap Pemilu, dan kandidat yang bertanding tidak hanya punya nilai ketokohan, tapi juga punya nilai kompetensi seperti seharusnya.
Sudah bukan masanya lagi pesta demokrasi jadi ajang adu domba dan pembodohan publik besar-besaran.Â
Jika seorang mau jadi pemimpin, tapi bingung mau berbuat apa saat sudah terpilih, itu sama berbahayanya dengan seorang yang tidak pernah jadi pilot tapi ngotot mengemudikan pesawat penumpang di cuaca buruk.
Ngeri-ngeri sedap.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H