Mohon tunggu...
Yose Revela
Yose Revela Mohon Tunggu... Freelancer - Freelance

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992 yoserevela@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Nature Pilihan

Perlunya Membumikan Produk Ramah Lingkungan

22 Juli 2022   14:14 Diperbarui: 22 Juli 2022   14:17 871
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Akibatnya, saat daya beli masyarakat turun, produk ramah lingkungan langsung kena pukulan berat. Banyak perusahaan yang kemudian beralih mengimpor produk serupa dari luar negeri (terutama negara-negara yang punya industri berskala produksi massal) dan mengemas ulang produk.

Pertimbangannya simpel, biaya produksi lebih murah, dan bisa lebih cepat mendapat pasokan barang dalam jumlah besar.

Untuk jangka pendek, ini bisa jadi langkah darurat efektif, tapi berbahaya untuk jangka panjang. Tidak ada keberlanjutan, seperti apa yang ingin diwujudkan lewat produk mereka.

Akibatnya, produsen dari dalam negeri bisa gulung tikar, padahal mereka adalah satu industri padat karya, yang mampu menyerap banyak tenaga kerja.

Maka, seiring adanya perhatian pada sektor ini, salah satunya melalui investasi hijau, pemerintah dan seluruh pihak terkait perlu mulai membumikan produk ramah lingkungan.

Kuncinya, ada upaya nyata untuk membangun kolaborasi antara perusahaan dengan produsen. Semakin padu, semakin bagus, karena manfaat ekonomi dan sosialnya akan melengkapi manfaat untuk lingkungan yang ingin coba dimaksimalkan.

Soal harga yang kurang kompetitif, masalah ini bisa diakali, dengan mendorong tumbuhnya skala produksi massal. Nantinya, para produsen ini bisa digandeng sebagai pemasok bahan mentah atau setengah jadi.

Semakin besar skala produksinya, semakin banyak tenaga kerja yang terserap. Ini akan membuat pemulihan ekonomi nasional bisa berjalan lancar.

Kalau harganya sudah terjangkau, masyarakat pasti tidak akan ragu untuk membeli. Keterjangkauan harga ini menjadi penting, karena masyarakat cenderung semakin selektif dalam berbelanja. Ini belum termasuk para pelaku UMKM seperti pengusaha warteg, warung makan dan sebangsanya.

Sekalipun iming-imingnya bisa untuk membantu menyelamatkan bumi seperti yang biasa dilakukan para superhero, percuma kalau harganya tidak membumi, dan justru membuat dompet menangis histeris.

Soal familiaritas produk, pemerintah dan pihak terkait bisa juga membangun identitas khas. Misalnya "karya anak bangsa" atau memanfaatkan momentum event G20 di Indonesia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun