Jika melihat kembali, bagaimana krisis lini depan Barca dan cara mereka menangani masalah ini, kata "panik" dan "kacau" menjadi gambaran paling sederhana. Terkesan sarkastik, tapi begitulah kenyataannya.
Disebut "panik" karena mereka terkesan "panik" saat harus memilih target pemain incaran. Nama-nama alternatif yang ada cukup banyak, tapi mereka justru melengkapi situasi "panik" itu dengan manuver "kacau" yang mereka buat sendiri.
Manuver "kacau" pertama, ada pada keputusan meminjamkan Carles Perez dan Abel Ruiz saat tim jelas-jelas sedang kekurangan pemain depan. Meski minim pengalaman, mereka tetap punya potensi yang setidaknya bisa lebih dikembangkan, tanpa harus belanja pemain baru.
Lagipula, mereka adalah lulusan akademi La Masia, yang selama ini jadi salah satu simbol kebanggaan klub.Â
Meski masih punya Ansu Fati yang belakangan mulai tampil reguler, keputusan Barca terkait Perez dan Abel Ruiz memberi kesan kalau mereka kurang percaya penuh dengan akademi La Masia.Â
Sebuah ironi mengingat betapa La Masia sering mereka banggakan, karena pernah mencetak bintang macam Pep Guardiola, Lionel Messi, Xavi Hernandez, dan Andres Iniesta.
"Kepanikan" dan "kekacauan" ini akhirnya berpadu sempurna, dengan terwujudnya transfer Braithwaite, pemain yang sebelumnya tak pernah disebut sebagai target klub.Â
Meski berstatus "transfer darurat", entah kenapa manajemen Barcelona justru memberinya kontrak selama empat setengah tahun.
Padahal, ia jelas-jelas hanya akan diplot menjadi solusi jangka pendek buat tim. Begitu musim ini berakhir, situasinya bisa jadi berubah drastis.Â
Selain meresmikan kedatangan Trincao, bisa dipastikan Barca akan berusaha memperkuat daya dobrak tim, dengan Neymar (PSG) dan Lautaro Martinez (Inter Milan) sebagai target teratas.
Entah kebetulan atau bukan, transfer Braithwaite seolah merepresentasikan seberapa rumit perjalanan Barca musim ini. Mulai dari grafik performa yang naik turun, pergantian pelatih di pertengahan musim, sampai krisis lini depan.Â