Mohon tunggu...
Yosef MLHello
Yosef MLHello Mohon Tunggu... Dosen - Bapak Keluarga yang setia. Tinggal di Atambua, perbatasan RI-RDTL

Menulis adalah upaya untuk meninggalkan jejak. Tanpa menulis kita kehilangan jejak

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Ayo Ramai-ramai Cegah Stunting...

28 Januari 2022   08:38 Diperbarui: 28 Januari 2022   10:13 172
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kesehatan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Schantalao

Stunting sebenarnya adalah masalah kekurangan gizi. Kalau kita bicara soal kekurangan gizi sebenarnya sudah lama ada, sejak adanya manusia. Sebab persoalan gizi berhubungan dengan konsumsi atau makanan sehari-hari sebagai kebutuhan pokok manusia sejak dulu kala. Namun sebenarnya bukan hanya itu. Soal lain lagi adalah persoalan gangguan pertumbuhan yang terjadi pada anak yang menyebabkan tinggi badan anak lebih rendah dari standar usianya. Jadi stunting itu berhubungan dengan dua hal yaitu gizi yang buruk dan pertumbuhan yang tidak sehat.

Mengapa baru sekarang dikenal Stunting?

Mengapa baru sekarang ramai-ramai bicara soal stunting? Apakah dulu tidak ada stunting? Apakah stunting berhubungan dengan status hidup manusia?

Para petugas medis sekrang setiap kali berkunjung ke masyarakat selalu mengemukakan tentang ciri-ciri stunting pada anak seperti pertumbuhannya melambat. Wajahnya tampak lebih muda dari anak-anak seusianya,. Punya pertumbuhan gigi yang terlambat. Lebih pendiam dan selanjutnya berakibat pada kemampuan belajarnya. Pada hal dari dulu sudah ada petugas medis. 

Pada masyarakat tertentu tidak dikenal stunting karena memang dari sononya mereka lahir pendek atau yang disebut manusia pendek. 

Dalam Kitab Suci juga persoalan itu. Zakheus misalnya. Ia disebutkan dalam Injil Lukas 10 bahwa si Zakheus itu berbadan pendek sehingga tidak bisa bertemu dengan Sang Guru yang bernama Yesus itu. 

Pada hal ia sudah tua, seorang pemungut cukai. Artinya seorang yang berpengaruh dalam masyarakat. Pertanyaannya apakah semua orang yang bertubuh pendek akan langsung divonis stunting?

Survey yang dilakukan pada tahun 2019 menunjukkan bahwa rata-rata 30 persen anak-anak balita Indonesia mengalami stunting. Mengapa? Apakah persoalan stunting ini muncul, ketika kita bergaul dengan bangsa-bangsa lain yang memiliki pertumbuhan fisik yang sangat tinggi dibandingkan dengan kita. 

Ataukah persoalan stunting ini muncul dari lapangan sepak bola, yang mana penampilan fisik para pemain kita kalah jauh dari penampilan fisik club seberang?

Rupanya benar juga bahwa akibat dari pergaulan menyebabkan kita melakukan evaluasi terhadap diri kita sendiri. Dengan menyaksikan perbandingan fisik pemain Indonesia dengan para pemain Malaysia atau Singapura, kita bertanya mengapa pemain kita lebih pendek dari pemain Singapura? Usut punya usut benar juga. Karena pertumbuhan pada awal kelahiran yang kurang normal.

Maka tugas kita semua bukan hanya para petugas medis, tetapi semua harus ramai-ramai mencegah stunting. Biar generasi ke depan lebih sehat. Supaya kita tidak boleh kalah lagi dari bangsa lain. Termasuk di lapangan sepak bola.

Bagaimana caranya?

1)  Melalui promosi dan kampanye pencegahan sejak dini

Stunting pada anak dapat mempengaruhi pertumbuhan fisik dan otaknya. Anak kelihatan normal namun kenyataannya ia lebih pendek dari anak-anak seusianya. Memangnya anak yang salah?

Tentu saja tidak. Maka dalam promosi dan kampanye pencegahan stunting harus dimulai dari orang tua dalam hal ini ibu hamil. Karena banyak ibu hamil, terutama di kampung-kampung sangat minim pengetahuannya dalam hal kesehatan.

Pada hal sejak dalam kandungan bayi sudah membutuhkan banyak nutrisi untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Untuk mencapai itu, seorang ibu hamil sendiri harus berada dalam kondisi sehat dan bergizi baik. 

Bagaimana hal itu bisa terjadi, bila ibu hamil sendiri kekurangan zat gizi. Maka ia tentu tidak bisa memberikan gizi yang baik kepada bayi yang ada dalam kandungannya. Jadi pada tahap promosi dan kampanye ini lebih ditujukan kepada para ibu hamil dan calon ibu hamil.

2.  Penyiapan asupan gizi yang memadai bagi anak

Persoalan pertama sudah dilewati. Kalau anak lahir dengan kekurangan gizi maka tahap kedua adalah pemberian asupan gizi yang seimbang bagi anak. 

Bagaimana kalau keluarga tidak bisa menyediakan sesuai kebutuhan? Apakah ini hanya ditanggungkan kepada pemerintah? Tentu saja semua masyarakat mesti ikut bertanggung jawab. Karena itu sangat dibutuhkan program donasi. Supaya dengan itu kita membantu pemerintah menyiapkan makanan bergizi yang sumbernya dari buah-buahan, bubur nasi, kentang atau roti. 

Selama ini salah satu MPASI yang diklaim mampu mencegah resiko stunting pada anak adalah telur. Maka penyediaan dan donasi telur sangat dibutuhkan. Ayo mari berdonasi telur kepada PAUD-PAUD terdekat yang ada di sekitar kita supaya membantu anak-anak mencegah stunting.

3.  Mengontrol waktu bermain anak di rumah

Banyak anak di kampung tidak pernah menikmati istirahat atau tidur siang. Mereka suka keluyuran. Karena itu setelah makan makanan bergizi, langkah ketiga adalah istirahat yang cukup. Orang tua bertugas mengontrol anak untuk tidur siang. Dengan itu dapat mencegah stunting pada anak. Saya yakin anak akan makin sehat dan pertumbuhannya pun sesuai dengan usianya.

Ayo mari kita ramai-ramai cegah stunting: bukan hanya pemerintah dalam hal ini dinas kesehatan, tetapi semua lapisan masyarakat terutama orang tua harus bertanggung jawab. Hanya dengan gerakan bersama, kita bisa cegah stunting. 

Dan dengan demikian kita bisa berdiri sejajar dan sama tinggi dengan pemain sepak bola negara tetangga kita. Kita tidak lagi minder karena berada di bawah standar karena stunting.

Sekali lagi ayo kita beramai-ramai cegah stunting.

Kalau bukan sekarang , kapan lagi.

Kalau bukan kita, siapa lagi.

Mari kita cegah stunting, mulai dari sekarang, dari diri sendiri dan dari hal-hal yang kecil.

Atambua, 28.01.2022

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun