"Memerangi orang kafir jang merintangi kepada kemerdekaan kita, sekarang ini masalah Hoekoemnja adalah fardhoe atau mungkin fardhoe 'ain bagi tiap-tiap orang Islam jang moengkin meskipoen bagi orang kafir."
Puncak perjuangan hasyim adalah Resousi Jihad yang merupakan pernyataan tertulis hasil kesepakatan para wakil masyarakat yang berisi tuntutan untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia sesuai dengan landasan ajaran Islam dan sejatinya meminta ketegasan kepada pemerintah Indonesia untuk segera mendeklarasikan Perang suci atau bisa disebut Perang jihad.
Resolusi jihad inilah yang membuat arek arek suroboyo melakukan perlawanan dan pertempuran pada 10 november 1945. Selain itu, Hasyim adalah tokoh yang berhasil menyatukan dua kubu diantara para ulama yang sedang berseteru dalam proses pembentukan dasar Negara.
Pada 25 juli 1947 dibulan Ramadhan, hasyim kedatangan dua utusan panglima besar jenderal soedirman. Keduanya menabarkan situasi Negara yang pada saat itu telah terjadi agresi militer belanda 1.
"Jenderal spoor telah merebut singosari, malang kyai. "
Hasyim kaget bukan main, karena itu adalah pusat markas tertinggi Sabilillah
"Masya Allah, masya Allah!" jawabnya.
Hasyim memegang dan menekan kepalanya kuat-kuat. Rasa terkejut yang hebat ini membuat ia pingsan. Ketika diperiksa ternyata ia mengalami pendarahan otak. Dokter yang didatangkan dari Jombang, tidak bisa berbuat apa-apa karena keadaannya sangat parah sekali.
Hasyim menghembuskan nafas terakhirnya pada 21 Juli 1947 pada usia 76 tahun. Ia dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Jombang, Jawa Timur.
Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional Atas jasa-jasa perjuangannya terhadap kemerdekaan Indonesia.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H