Mohon tunggu...
Yoga Prasetya
Yoga Prasetya Mohon Tunggu... Penulis - Penjelajah

Menulis buku: Kepada Toean Dekker (2018), Antologi Kalimats Koma (2019), Retrospeksi Sumir (2020), Semesta Sang Guru (2021), Romansa Kusuma (2022), Astronomi Hati (2023), Kipas Angin (2024)

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Upah Seorang Guru Ngaji

8 November 2020   08:34 Diperbarui: 8 November 2020   08:40 367
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto Guru Ngaji: bersamadakwah.net

"Ini upah mengajar anak-anak ngaji bulan ini, Pak Irfan. Semoga berkah ya," ucap Pak Ketut selaku ketua yayasan
"Alhamdulillah, terima kasih Pak Ketut," balas Pak Irfan singkat.

***
Pak Irfan memang tidak terlalu peduli dengan upahnya sebagai guru ngaji. Ia juga tak pernah mengikuti berita tentang UMP 2021. Pekerjaan yang sudah dilakukannya selama empat tahun ini memang sering mendapatkan protes dari Bu Enita, istrinya. Bagaimana bisa upah 500.000 sebulan untuk hidup di zaman yang serba modern ini?

Beruntungnya, sejak tahun lalu Bu Enita sudah diterima jadi guru PNS. Sebelumnya, ia hanya menjadi honorer di sebuah sekolah madrasah. Meski suka protes, Bu Enita percaya bahwa ada saja rezeki dari Tuhan untuk keluarga kecil ini.

Kemarin Pak Meirri, seorang tetangga, memberi uang tiga ratus ribu lantaran Pak Irfan sudah menjaga rumahnya selama sebulan. Pernah juga, Pak Irfan mendapatkan kepercayaan mengurus sebuah usaha mebel yayasan Pak Ketut hingga meraih omzet satu juta. Disitulah letak berkah seorang guru ngaji.

Namun, ada yang aneh dari upah bulan ini. Amplopnya lebih tebal dari biasanya. Bu Enita mencoba menyampaikan pada suaminya tentang kejadian ini.

"Pah, ini beneran amplopnya milik Papah?"  tanya Bu Enita

"Lho, ya benar to Mamah. Itu tertulis nama Irfan. I-R-F-A-N!" kata Pak Irfan dengan sedikit ngegas.

"Tapi, tapi, isinya kebanyakan Pah," Istrinya masih mencoba protes.

"Lho, ya selama sebulan ini kan banyak kegiatan pengajian. Mulai dari maulid nabi hingga khataman Al-Qur'an. Kemarin juga sempat mengajar ibu-ibu RT juga kan. Siapa tahu jadi satu di amplop," bantah Pak Irfan. "Oh, iya nanti malam ada arisan RT di rumah. Jadi, pakai saja semua sekalian kita syukuran enam bulan kehamilanmu ya," lanjutnya.

"Se... serius Pah?" Bu Enita tampak ragu.

"Sejak kapan Papah gak serius masalah beginian, Mah?" tanya balik Pak Irfan.

Memang sejak menikah, Pak Irfan tak pernah membuka amplop upah bulanannya. Ia hibahkan semuanya untuk kebutuhan dapur istri atau bisa juga ditabung di bank syariah. Untuk kebutuhan rokok atau makan di warung, Pak Irfan sudah punya "duit lanang" dari kerja tambahan.

***

Sebagai istri solehah, Bu Enita tak lagi membantah. Ia bersama tetangganya yang bernama Bu Firda segera pergi ke pasar. Mereka juga menghubungi kerabat jauh untuk datang.

Nasi kotak dan beragam kue telah dipesan langsung ke Pak Felix, toko makanan langganan Bu Enita. Tak lupa Pak Ketut dan staf yayasan juga telah diundang.

Dengan mematuhi protokol kesehatan, jadilah malam ini malam yang membahagiakan bagi Pak Irfan dan keluarga. Sempat kaget kok bisa upahnya menjadi guru ngaji melebihi gaji istrinya yang seorang PNS.

Satu persatu undangan hadir. Mereka mendoakan semoga Pak Irfan dan Bu Enita selalu bahagia dan sering-sering mengadakan syukuran saat acara RT. Di akhir acara, Pak Ketut mendatangi Pak Irfan untuk menyampaikan hal penting.

"Pak Irfan, saya mohon maaf baru menyampaikan sekarang," Pak Ketut mencoba membuka percakapan.

"Iya Pak, ada yang ingin bapak sampaikan?" Pak Irfan penasaran, sepertinya ada hal yang tak mengenakkan.

"Mohon maaf, kemarin anak buah saya salah ngasih amplopnya. Yang saya berikan ke panjenengan itu amplop keseluruhan sumbangan dari wali murid kita," ucap Pak Ketut.

Deg

Pak Irfan terkaget-kaget mendengar ucapan Pak Ketut. Pantesan istrinya membeli banyak makanan dan mengundang kerabat jauh. Ia melirik istrinya dari kejauhan yang masih berbicara dengan kerabat jauhnya.

"Ma...maaf Pak Kadek, amplop kemarin isinya berapa pak?" tanya Pak Irfan.

"Lima juta, Pak Irfan," kata Pak Kadek.

Astaga. Pak Irfan langsung mendadak pingsan. Bagaimana ia menyampaikannya pada istrinya?

Penulis: Yoga Prasetya, guru dan pujangga.

Nganjuk, 8 November 2020.

Tulisan ini dibuat di tanah kelahiran Yoga Prasetya sebelum acara pernikahan adik sepupunya. 

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun