"Maaf, Nak. Pak Dalang sedang ada di luar kota, besok pagi baru kembali."
"Oh, kalau begitu, saya akan menunggu, Bi."
"Tetapi saya tidak berani membawa Anda masuk, Nak."
"Tidak apa, Bi. Saya akan menunggu di luar pintu gerbang masuk ini."
Dayat tak ingin kembali ke rumah dengan tangan kosong. Dengan rasa penasaran yang sama. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama. Bagai gelandangan Dayat duduk dan tertidur di luar pagar rumah, menunggu dengan sabar si pemilik rumah tiba besok pagi. Dia tak peduli hawa dingin, tak peduli gigitan nyamuk, tak peduli banyak pasang mata yang lewat didepannya memandang penuh tanda tanya. Dayat tersenyum sendiri. Dia hanya berpikir, kadang orang yang terlalu mengidolakan seseorang, beda tipis dengan orang yang yang jatuh cinta. Orang yang jatuh cinta mengharap orang yang dicintainya bisa membalas dengan perasaan yang sama. Tetapi orang yang mengidolakan tidak butuh balasan, kadang dia rela menjadi pemuja misterius, karena orang yang diidolakan tak pernah tahu. Dia hanya menyukai dengan tulus, memberi yang mungkin bisa diberikan.
Pagi yang cerah. Mentari bersinar memberi harapan dan semangat. waktu menunjukkan pukul delapan. Sebuah mobil mewah memasuki gerbang rumah. Dayat berharap Pak Dalang yang baru saja tiba di rumah itu. Dayat tampak lega. Hari ini akan terjawab semuanya. Tak peduli perutnya keroncongan, sedari siang kemarin tak terisi nasi. Dia hanya ingin segera bertemu Pak Dalang.
"Nak, sebenarnya Bapak lelah, tetapi karena kasihan kepadamu yang telah menunggu dari kemarin sore, akhirnya Bapak bersedia menemuimu."
"Terima kasih, Bi."
Dayat bergegas masuk.
"Ada keperluan apa, Nak?" Pak Dalang mengawali pembicaraan.
Dayat menceritakan semua kejadian yang telah dialaminya. Tentang lukisan sinden yang selalu dibuatnya dengan mata terpejam, tembang keramat, dan telaga itu.