Mohon tunggu...
Yarifai Mappeaty
Yarifai Mappeaty Mohon Tunggu... Penulis - Laki

Keterampilan menulis diperoleh secara otodidak. Sejak 2017, menekuni penulisan buku biografi roman. Buku "Sosok Tanpa Nama Besar" (2017) dan "Dari Tepian Danau Tempe (2019).

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Menemukan Diri yang Otentik

3 Juni 2019   17:12 Diperbarui: 5 Juni 2019   08:18 71
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Selanjutnya, jika tau terasosiasi dengan hal-hal baik dan orientasinya pada kehidupan ukhrowi yang lebih kekal, maka tau-tau sebaliknya. Orientasi kehidupan tau-tau, hanya pada dunia semata. Bahkan demi kenikmatan duniawi, tau-tau lumrah menghalalkan segala cara. Tak heran kalau tau-tau sampai berkubang dengan segala bentuk kebohongan dan kepalsuan. Kekacauan yang terjadi di negeri ini pada hari-hari ini, misalnya, mungkin saja karena bangsa ini telah kehilangan tau dalam hegemoni tau-tau.

Kembali kepada menemukan diri yang otentik, coba kita bayangkan eksistensi kepompong dan kupu-kupu. Kupu-kupu terperangkap oleh selubung kepompong, sehingga yang tampak dan dikenali hanya kepompong, bukan kupu-kupu. Padahal kepompong itu hidup karena adanya kupu-kupu di dalam dirinya. Jika tiba saatnya kupu-kupu pergi, maka kepompong bukan apa-apa selain disebut cangkang kepompong. Persis seperti raga jasmani yang mengalami kematian ditinggal ruh, tak lagi disebut manusia.

Di dalam proses pematangan diri menunju hari pembebasan meninggalkan kepompong, kupu-kupu membutuhkan panas. Diri rohani demikian pula adanya, juga membutuhkan panas dalam rangka proses pemurnian dan penyucian dirinya, sembari menunggu datangnya saat pembebasan dari selubung raga jasmani. Tentu saja, panas yang dimaksud bukan hanya puasa, tetapi semua bentuk amar ma'ruf nahi mungkar.

Lantas, apakah kematian itu sejatinya adalah pembebasan? Menemukan kembali diri rohani otentik setelah melalui proses pembakaran (puasa), sejatinya adalah pembebasan sekaligus kematian.  Oleh karena itu, Iedul Fitri sebenarnya adalah hari pembebasan bagi diri otentik, sekaligus hari kematian bagi diri yang palsu.

Selamat ber-iedul fitri, semoga hari ini kita terbebas dari selubung kepalsuan dan membawa kita pada penemuan diri yang otentik.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun