Di Tanah Jawa, pada 500 tahun lebih silam, kekuasaan juga mempertontonkan kedigdayaannya membungkam kebenaran. Adalah Syekh Siti Jenar yang dihukum mati oleh otoritas Wali Songo dan penguasa Demak. Ia dituduh sesat dan menyesatkan karena mengajarkan "Manunggaling Kawulo Gusti". Yaitu, sebuah ajaran tentang bersatunya hamba dengan Khaliq yang bersumber dari wahdatul wujud Al-Hallaj. Tetapi, benarkah ajaran Syekh Siti Jenar sesat? Hingga kini masih menjadi kontroversi. Namun tidak sedikit sejarahwan berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar dihukum mati karena ajarannya mengancam otoritas Wali Songo dan Kesultanan Demak, seperti Al-Hallaj mengancam kekuasaan Al-Muqtadir.
Tampaknya kekuasaan, kapan dan di manapun, tetap saja seperti candu yang melenakan. Setiap rezim cenderung kecanduan untuk mereguk nikmat kekuasaan lebih lama. Hal itu membuat watak asli kekuasan yang otoriter kerap muncul untuk menghadapi pihak-pihak yang mencoba mengusik kenikmatannya. Di sini, kebenaran yang dilontarkan sebagai kritik membuat kekuasaan tidak nyaman. Padahal kritik pada dasarnya hanyalah sebuah upaya menyandingkan kebenaran kekuasaan dengan kebenaran oposisi yang bertujuan mencegah terjadinya monopoli kebenaran oleh kekuasaan.
Namun, kritik masih tetap saja dipandang sebagai ancaman bagi kekuasaan, bahkan di negeri yang paling demokratis sekalipun, sehingga harus dibungkam. Tetapi berbeda di masa lalu, membungkam kebenaran di masa kini sedikit lebih "beradab" dengan menggunakan modus bully, persekusi, delik. Sedangkan penjara adalah jalan terakhir, belum sampai pada hukuman mati.
Di negeri ini, terlepas dari situasi politik yang melatarinya, modus tersebut telah menimpa Ahmad Dhani, Neno Warisman, dan Rocky Gerung yang memilih beroposisi terhadap kekuasaan. Modus bully, persekusi, dan pengaduan, Â memang bukan tangan kekuasaan sendiri yang melakukannya, tetapi melalui tangan-tangan oknum pendukung dan penikmatnya.
Cerita tentang kebenaran dibungkam kekuasaan sepertinya tak akan pernah berakhir, kendati demokrasi telah mengajarkan kekuasaan untuk mengabdi. Sebab, begitulah kekuasaan dan kebenaran ditakdirkan tidak selalu bersama. Sehingga mengungkapkan kebenaran memang selalu punya risiko.
Kata Sang Bijak, "Tak mudah menemukan kebenaran, tetapi mengungkapkannya jauh lebih berbahaya." Maka, berhati-hatilah!
Bone, 3/2019
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H