Mohon tunggu...
Muhammad Ainul Yaqin
Muhammad Ainul Yaqin Mohon Tunggu... Dosen - Dosen Teknik Informatika Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Dosen Teknik Informatika yang menekuni bidang keahlian Rekayasa Perangkat Lunak, Sistem Informasi, Manajemen Proses Bisnis, Process Mining, dan Arsitektur Enterprise.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Alam & Tekno

Menguak Rahasia di Balik Desain Data Warehouse: Dari Multidimensi Sampai Data Warehouse yang Super Aktif!

14 November 2024   14:08 Diperbarui: 14 November 2024   14:34 89
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Apa Itu Data Warehouse?

Coba bayangkan data warehouse sebagai lemari pakaian digital untuk data. Setiap potong informasi adalah pakaian, dan tugas kita adalah menyusunnya agar mudah ditemukan dan dipakai. Nah, data warehouse sebenarnya lebih dari sekadar lemari pakaian -- ini adalah lemari pakaian kelas atas yang dirancang khusus untuk perusahaan besar yang ingin menggunakan data sebagai senjata rahasia dalam pengambilan keputusan strategis.

Jadi, apa sih bedanya data warehouse dengan database biasa? Kalau database biasa berfungsi untuk menyimpan data mentah yang kita pakai sehari-hari, data warehouse lebih "elegan." Ia mengintegrasikan data dari berbagai sumber (jadi mirip banget sama baju yang diambil dari berbagai toko) dan menyusunnya dengan sangat rapi. Dari sinilah timbul istilah "OLAP" alias Online Analytical Processing, yang merupakan teknik khusus untuk menganalisis data besar dengan cepat.

Menurut penelitian Husemann, Lechtenbrger, dan Vossen (2000), desain data warehouse bukan perkara gampang. Multidimensional data models, atau model data multidimensi, merupakan kunci suksesnya. Model ini biasanya diwujudkan dalam bentuk skema bintang (star schema) atau skema kepingan salju (snowflake schema). Bayangkan bintang atau kepingan salju sebagai pola untuk merapikan pakaian di lemari tadi. Masalahnya, bagaimana caranya membuat skema itu dari data mentah? Di sinilah ketiga ilmuwan itu mencoba mencari solusi.

Membongkar Model Multidimensi

Setelah tahu kalau data warehouse itu adalah lemari pakaian digital untuk data, mari kita lihat lebih dalam soal desainnya. Lechtenbrger dan Vossen (2003) memperkenalkan konsep normal form atau bentuk normal untuk desain multidimensi. Apa hubungannya bentuk normal ini dengan data warehouse?

Begini ceritanya. Kalau lemari pakaian kita diatur asal-asalan, kita mungkin akan menemukan jaket di tumpukan kaos atau topi di laci celana. Nah, bentuk normal yang diusulkan oleh Lechtenbrger dan Vossen adalah aturan main yang bikin data di data warehouse tertata rapi, bebas redundansi (bayangkan kalau kita punya 10 jaket yang sama, kan mubazir), dan "summarizable," atau mudah untuk diringkas tanpa kehilangan makna penting.

Dalam dunia data warehouse, "summarizability" sangat penting. Coba bayangkan Anda ingin melihat tren penjualan produk bulanan. Kalau data tidak bisa diringkas dengan baik, hasilnya bisa ngawur. Konsep ini diibaratkan seperti melihat koleksi pakaian dari musim ke musim tanpa kehilangan informasi penting tentang tren modenya. Jadi, dengan pendekatan normal form, kita bisa merancang skema data warehouse yang siap menyajikan data tanpa "kekacauan lemari".

Dari Data Warehouse Biasa Jadi Aktif - Kenalan dengan "Active Data Warehouse"

Bayangkan data warehouse yang selama ini cuma diam dan menunggu dipanggil seperti lemari pakaian biasa, mendadak jadi aktif dan ikut bantu memilih pakaian terbaik buat Anda setiap hari! Begitulah konsep Active Data Warehouse yang diperkenalkan oleh Thalhammer, Schref, dan Mohania (2001).

Di dunia nyata, data warehouse pasif hanya menyimpan data dan membiarkan pengguna atau analis yang harus repot mencari informasi dan mengambil keputusan sendiri. Namun, Active Data Warehouse mengubah permainan. Konsep ini menambahkan semacam "otak" ke data warehouse, sehingga ia bisa mengambil peran lebih aktif dalam membantu pengambilan keputusan.

Bagaimana caranya? Dengan menambahkan rules atau aturan yang otomatis aktif saat kondisi tertentu terpenuhi. Misalnya, Active Data Warehouse ini bisa mengirimkan peringatan otomatis kalau ada penurunan penjualan produk tertentu atau kalau ada lonjakan jumlah pelanggan dalam waktu singkat. Aturan-aturan ini menggunakan struktur ECA, yaitu Event-Condition-Action, atau peristiwa-kondisi-aksi. Misalnya, jika event tertentu terjadi (penurunan penjualan), lalu kondisi tertentu terpenuhi (penjualan turun di bawah target), maka action dilakukan (misalnya peringatan otomatis dikirim ke manajer pemasaran).

Jadi, Active Data Warehouse ini bisa dibilang seperti asisten digital yang tahu kapan harus mengingatkan kita tanpa perlu disuruh. Bahkan, ia bisa melakukan analisis sederhana sendiri sebelum memberi tahu hasilnya kepada tim. Bayangkan betapa hematnya waktu kalau tidak perlu menganalisis semuanya secara manual! Inilah yang membuat Active Data Warehouse sangat cocok untuk perusahaan yang punya alur data dan pengambilan keputusan yang kompleks.

Desain Konseptual, Normalisasi Multidimensi, dan Warehouse Aktif - Trio Masa Depan Data

Setelah mengenal ketiga pendekatan ini -- desain konseptual, normalisasi multidimensi, dan active data warehouse -- mari kita rangkum cara mereka bekerja bersama-sama. Bayangkan skenario berikut: Anda punya toko pakaian yang datanya menyimpan berbagai informasi pelanggan, penjualan, dan stok barang. Anda ingin menggunakan data ini untuk strategi pemasaran dan pengambilan keputusan, dan Anda tidak mau buang waktu berurusan dengan data yang tumpang tindih atau tidak teratur.

  1. Desain Konseptual: Langkah pertama, kita menggunakan desain konseptual yang diusulkan Husemann dan tim untuk mengonversi data operasional menjadi data warehouse. Ini seperti menyusun rencana tata letak lemari dari awal -- memilih apakah akan menggunakan skema bintang atau skema kepingan salju, dan memastikan semua data dari berbagai sumber bisa masuk dalam satu pola yang logis.

  2. Normalisasi Multidimensi: Setelah punya desain dasar, kita beralih ke teori multidimensional normal forms milik Lechtenbrger dan Vossen. Tujuannya adalah memastikan data diatur dengan baik tanpa redundansi, lengkap, dan dapat diringkas dengan mudah. Ibaratnya, ini adalah tahap di mana kita memastikan lemari sudah tertata sedemikian rupa sehingga bisa mengakomodasi tren musim baru tanpa perlu mengganti seluruh isi lemari.

  3. Active Data Warehouse: Dengan struktur yang sudah rapi dan siap untuk diakses kapan pun, kita bisa menambahkan aturan-aturan aktif ala Thalhammer dkk. di dalamnya. Aturan ini memungkinkan data warehouse kita untuk memberi notifikasi dan membantu pengambilan keputusan secara otomatis saat kondisi tertentu terjadi.

Kombinasi dari ketiga pendekatan ini adalah masa depan yang ideal untuk data warehouse yang tidak hanya rapi dan fungsional, tapi juga cerdas dan interaktif. Data warehouse tak lagi sekadar penyimpanan data, melainkan bagian aktif dari tim pengambilan keputusan.

Menghadapi Tantangan dalam Desain Data Warehouse -- Harus Sabar dan Teliti!

Membuat data warehouse yang baik bukan sekadar "ambil data, masukkan, selesai!" Seperti yang telah dijelaskan oleh Husemann dan kawan-kawan, proses ini penuh tantangan. Ada berbagai keputusan yang harus diambil saat mendesain data warehouse: dari memilih model data multidimensi, hingga mengelola data yang beraneka ragam dari sumber yang berbeda-beda.

Tantangan besar lainnya adalah memastikan bahwa data tetap terintegrasi dan tidak tumpang tindih. Bayangkan kita menyimpan data penjualan dari bulan Januari hingga Desember, lalu tanpa sengaja menginput ulang data yang sama di bulan Januari tahun berikutnya. Akibatnya, laporan akhir tahun bisa jadi kacau karena ada data yang ganda. Di sinilah pentingnya normalisasi dalam skema multidimensi yang dirancang dengan bentuk normal seperti yang diusulkan Lechtenbrger dan Vossen. Mereka memastikan bahwa data warehouse kita bersih dari redundansi yang tidak perlu.

Dan jangan lupa tantangan soal kinerja atau performa. Sebuah data warehouse yang harus mengelola data dari ribuan transaksi setiap hari bisa mengalami "macet" kalau desainnya tidak optimal. Inilah sebabnya skema seperti star dan snowflake bukan hanya soal estetika; mereka membantu menjaga performa tetap optimal, seperti menjaga arus keluar-masuk di lemari pakaian agar Anda bisa mencari barang dengan cepat tanpa hambatan.

Kesimpulan -- Data Warehouse yang Modern, Efisien, dan... Aktif!

Jadi, apa yang bisa kita simpulkan dari petualangan mendalami desain data warehouse ini? Pertama, kita belajar bahwa data warehouse adalah alat yang sangat penting bagi perusahaan untuk menyimpan dan menganalisis data dalam jangka panjang. Dengan desain konseptual yang benar, data dari berbagai sumber bisa digabungkan menjadi satu kesatuan yang mudah dianalisis.

Kedua, dengan multidimensional normal forms, kita bisa memastikan data di data warehouse tetap terstruktur, bebas dari redundansi, dan dapat diringkas secara akurat. Ini memberikan fondasi yang solid agar data selalu siap digunakan tanpa perlu khawatir ada kesalahan akibat data ganda atau terduplikasi.

Terakhir, dengan konsep Active Data Warehouse, kita mendapatkan fitur yang lebih cerdas dan otomatis dalam pengambilan keputusan. Tak perlu lagi repot-repot melakukan analisis manual setiap kali terjadi perubahan kecil; data warehouse yang aktif ini bisa memberi tahu kita secara otomatis dan bahkan mengambil tindakan tertentu jika kondisinya sudah diatur sebelumnya.

Dalam era digital ini, data warehouse bukan lagi sekadar lemari penyimpanan data. Ia telah berevolusi menjadi alat yang bisa berperan sebagai "penasihat" otomatis bagi perusahaan. Dengan memadukan ketiga pendekatan dari Husemann, Lechtenbrger, dan Thalhammer ini, kita memiliki data warehouse yang bukan hanya terstruktur dan efisien, tapi juga siap untuk membantu tim pengambil keputusan -- bahkan sebelum mereka bertanya!

Dan itulah, teman-teman, dunia data warehouse dari sisi yang mungkin belum banyak kita kenal. Dari struktur multidimensi hingga fitur aktif, data warehouse yang baik adalah fondasi penting untuk pengambilan keputusan strategis yang efektif. Jadi, lain kali ketika Anda melihat diagram data warehouse, ingatlah bahwa di balik itu ada seni, teknik, dan tentunya... sentuhan kreativitas!

Referensi:

HSEMANN, Bodo; LECHTENBRGER, Jens; VOSSEN, Gottfried. Conceptual data warehouse design. Mnster, Germany: Universitt Mnster. Angewandte Mathematik und Informatik, 2000. 

LECHTENBRGER, Jens; VOSSEN, Gottfried. Multidimensional normal forms for data warehouse design. Information systems, 2003, 28.5: 415-434. 

THALHAMMER, Thomas; SCHREFL, Michael; MOHANIA, Mukesh. Active data warehouses: complementing OLAP with analysis rules. Data & Knowledge Engineering, 2001, 39.3: 241-269.

 

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Alam & Tekno Selengkapnya
Lihat Ilmu Alam & Tekno Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun