Sebuah senyum getir terlukis di wajahnya. "Ya, tentu saja. Dan itu yang harus kau rubah, hidup terus berjalan, Van."
Kutundukkan kepalaku sejenak lalu aku pun bangkit dari duduk. "Aku akan menunggu di luar," seruku seraya melangkah.
Aku tidak tahu apa yang Nikho lakukan selanjutnya, sudah beberapa hari ini dia selalu datang ke caffe sialan ini. Duduk di meja yang sama, memesan minuman yang sama dan memandangi wanita yang sama. Sudah beberapa hari ini, sejak malam yang seolah meruntuhkan harga dirinya dia hanya melakukan itu. Padahal hari-hari sebelumnya dia cukup agresif mendatangi wanita itu.Â
* * *Â
Wanita itu meninggalkan panggung setelah menyelesaikan beberapa lagu. Dia segera berganti pakaian dan meninggalkan caffe untuk pulang. Seperti biasa dia akan keluar melalui pintu samping, baru beberapa langkah melewati pintu, dia berhenti seketika. Menatap sosok yang belakangan cukup mengganggunya.
"Kau lagi, apa yang kau inginkan?"
Nikho menyunggingkan senyum tipis, "Hanya sedikit waktu denganmu."
"Aku tidak punya waktu untuk mengurusi pengganggu sepertimu, jadi berhenti menggagguku!" pintanya.Â
Nikho melangkah ke arahnya, dan wanita itu mundur, membuat Nikho harus memutus langkahnya. "Aku tidak akan menyakitimu, kau tidak perlu takut."
"Tidak perlu takut," desisnya, "aku yakin hampir setiap wanita yang kau ganggu akan takut padamu."
"Aku tidak pernah mengganggu mereka, kami hanya memiliki sedikit kesenangan."