Mohon tunggu...
Y. Airy
Y. Airy Mohon Tunggu... Freelance Writer -

Hanya seseorang yang mencintai kata, Meraciknya.... Facebook ; Yalie Airy Twitter ; @itsmejustairy, Blog : duniafiksiyairy.wordpess.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

[RoseRTC] September, Ever

17 September 2016   13:52 Diperbarui: 17 September 2016   14:08 248
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

"Aku hanya seorang monster,"

Ku bungkam mulutnya dengan telunjukku yang ku tempelkan di mulutnya seraya menggeleng, "no, jangan katakan itu! Aku mencintaimu, karena...," ku letakan telapak tanganku di dadanya, "disini, kau memiliki sesuatu yang sama dengan semua orang!"

Hening.

"Hati. Aku sudah melihatnya!"

Bayangan kami kembali melayang ke 11 hari yang lalu, dimana pertemuan pertama kami begitu rumit dan mendebarkan. Jika dia memang seorang monster, seharusnya saat ini aku sudah berkalang tanah, dan mungkin beberapa orang tak bersalah.

Seorang pembunuh profesional yang sengaja dibayar untuk membunuhku. Aku adalah saksi kunci pembunuhan seorang perwira AL, yang tidak lain adalah ayahku sendiri. Aku berhasil kabur saat itu, memang..., aku tak bisa melihat wajah si pembunuh karena dia memakai penutup wajah. Tapi aku mengenali matanya. Tatapan dinginnya yang menyimpan sesuatu. Sesuatu yang akhirnya bisa ku pahami. Tapi mereka, mereka tetap menginginkan kematianku.

Mereka!

Yang belakangan ku ketahui adalah teman karib ayah, aku cukup mengenalnya. Hanya, aku tak mengerti kenapa dia tega membunuh ayahku yang sudah seperti saudaranya sendiri?

Saat itu, orang pertama yang kuhubungi adalah om Arya. Aku pergi ke rumahnya untuk meminta perlindungan. Untuk beberapa saat aku memang aman.

Tapi aku tidak ingin mengingat semua itu lagi. Toh sekarang om Arya sudah mendekam di balik jeruji besi, dan sang pembunuh telah dinyatakan tewas oleh kepolisian.

Dia menggengam tanganku yang berada di dadanya, "Sebenarnya dulu saat di panti asuhan..., mereka memanggilku Joey!" desisnya. Aku menatapnya, mencerna kalimat yang ia ucapkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun