"Meminta satpam untuk menyeretku?" potong Ivana, "ancamanmu sudsh tidak asing, Nicky. Kau tak perlu memanggil satpam untuk menyeretku keluar, aku bisa keluar sendiri!" kesalnya.
"Baguslah!"
"Kau memang munafik, tidak apa-apa. Jika kau membutuhkanku kau tahu dimana bisa menemukan aku!" katanya menyentuh pundak Nicky sekali lagi sebelum meninggalkan ruangan itu.
Begitu Ivana keluar Nicky mengangkat gagang teleponnya, "Mey, bisa ke ruanganku sebentar!" pintanya, lalu ia menaruh telepon itu dengan kesal. Tak berapa lama Mela sudah mengetuk pintu dan masuk, ia menghampiri Nicky. Tetapi sebelum ia bertanya kenapa Nicky memanggilnya dengan nada seperti itu, ia sudah keburu kena semprot duluan.
"Kau darimana saja?" gertaknya, "e....!" belum sempat Mela menjawab Nicky sudah menghardiknya lagi, "kenapa kau membiarkan Ivana masuk ke ruanganku, salah satu tugasmu adalah untuk mengatasi hal seperti itu?"
"Maaf, tadi aku ke ruangan Daren sebentar!"
"Aku tahu kalian akan segera menikah, tapi bukan berarti kalian bisa melalaikan tugas di kantor. Apa kau sudah bosan menjadi sekretarisku?" gertak Nicky, Mela menatapnya seketika, "maaf, bukan begitu!"
"Aku tidak mau tahu, jika Ivana datang lagi kau harus mencegahnya masuk bagaimanapun caranya. Dan kau tidak boleh meninggalkan mejamu jika tidak ada keperluan penting, kau mengerti?"
"Iya!"
"Kau boleh keluar!"
Mela keluar dengan perasaan heran, Nicky tak pernah semarah itu padanya. Apa yang terjadi? Nicky bahkan tak pernah sampai mengancamnya soal posisinya itu sebelumnya, padahal dirinya hanya pergi sekitar 5-10 menit di ruangan Daren. Itu bukan soal pekerjaan bukan soal urusan pribadi mereka, lagipula untuk apa Ivana datang menemui Nicky lagi. Bukankah dia sudah tahu kalau Nicky sudah menikah dengan Liana?