"Noona, tidak apa-apa?"
"Aku mati! Aku mati!"
"Tidak, noona tidak mati," hardik Kyungju.
Valene masih gemetaran, itu tampak jelas dari tangannya yang menutupi wajahnya. Kyungju merasa bersalah, lalu duduk kembali di tempatnya dan memutar bahu Valene untuk menghadapnya, dia berusaha melepas tangan Valene dari wajahnya.
"Noona, sungguh kita tidak apa..."
Kyungju terkejut saat melihat Valene rupanya sudah menangis. Valene sesenggukan kecil sambil terus berusaha memejamkan matanya, air matanya mengalir ke wajahnya yang bulat. Kyungju menggigit bibir bawahnya, merasa tidak enak lagi. Wajah Valene yang menangis ini, sekali lagi membuat Kyungju berpikir dia sangat menggemaskan. Kyungju menarik Valene ke pelukannya.
"Maaf noona, aku tidak seharusnya membuatmu terkejut. Tolong berhenti menangis, sekarang kita aman. Noona akan aman, selama aku di samping noona."
Perlahan, Valene mulai berhenti menangis. Dia membuka matanya dan menyadari kehangatan yang mengalir pada dirinya ternyata dari pelukan Kyungju. Otaknya kembali memutar adegan per adegan sebelum pelukan ini. Apakah benar bahwa Kyungju menyukainya? Itu kan yang membuat Valene terkejut tadi? Wajah Valene mulai memerah. Bagaimana dia bisa menghadapi Kyungju setelah ini?
"Permisi."
Keduanya tersadar dan Kyungju melepaskan pelukannya sementara Valene mengambil tissue untuk menghapus air matanya. Mereka terkejut karena di sebelah Valene muncul seorang polisi setengah baya berkumis yang mengetuk-ngetuk pintu mereka. Karena memang mobil sport itu dipasang Kyungju pada posisi kap yang terbuka, Kyungju mengulurkan tangannya untuk menurunkan kaca dan berbicara dengan polisi itu.
"Annyeonghaseyo," balas Kyungju sambil menundukkan kepalanya.