Mohon tunggu...
yulia anna
yulia anna Mohon Tunggu... Administrasi - Karyawan swasta dan hobby menulis

Satu Keyakinan "berhasil"

Selanjutnya

Tutup

Kurma Pilihan

Ketika Gula Berasa Micin

12 Mei 2020   21:56 Diperbarui: 12 Mei 2020   22:15 402
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Bulan puasa adalah bulan yang ditunggu-tunggu. Apalagi melaksanakan puasa dikampung halaman. Rasanya sangat berbeda. Bisa kumpul dengan Si Mbah Lanang dan Wedok (bahasa jawa, sebutan lanang untuk laki-laki, wedok untuk perempuan) selama satu bulan penuh setelah rutinitas kuliah dikota yang jauh dari kampung halaman membuat pikiran saya menjadi fresh. Sesaat saya dapat melupakan tugas-tugas kuliah yang sebenarnya menumpuk dan harus dikumpulkan setelah aktif kembali di kampus.

Puasa hari pertama dikampung halaman sangat khas. Setelah Imsak dan sholat subuh, suasana musholla dan masjid masih ramai. Terlihat dua-tiga orang yang mulai Tadarus Al Qur'an. Suara orang mengaji di beberapa musholla  terdengar saut-sautan. Sungguh adem rasanya berada ditengah-tengah mereka melantunkan ayat-ayat suci Al Qur'an. Suasana yang tidak saya dapatkan dikota besar tempat saya kuliah. Mushola dan masjid begitu hidup saat bulan puasa seperti ini.

Aktivitas tetangga yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani juga sudah terlihat. Ibadah puasa tidak menghalangi aktivitas mereka disawah. Pergi ke sawah tanpa menggunakan alas kaki adalah ciri khas mereka. Begitu juga dengan Si Mbah yang saat itu siap-siap pergi ke sawah.

"Mbah, pakai sandal." Ucap saya pada Si Mbah.

"Ndak usah. Ga pake sandal lebih sehat." Ucap beliau

"Takut kena paku atau beling, Mbah." Pintaku

"Ndak usah." Ucap beliau sembari berlalu menuju sawah.

Saya pun kembali pada tugas pagi saya sebagai anak desa. Yang rutinitasnya berkutat seputar bersih-bersih rumah dan halaman. Menyapu halaman yang begitu luas, merapikan pagar bambu yang posisinya kurang pas, menyiram halaman dengan menggunakan selang yang panjangnya bermeter-meter, dan rasanya rutinitas ringan seperti ini takkan cukup diselesaikan dalam satu hari.

Matahari semakin meninggi. Suara orang Tadarrus masih terdengar. Biasanya mereka tadarrus Al Qur'an sampai jam 10an. Dan saya, sudah kelelahan membersihkan halaman yang luas karena dipenuhi dengan daun-daun mangga kering yang berjatuhan. Rasa lelah membuat saya mengantuk dan ketiduran.

Entah berapa lama saya tertidur. Tiba-tiba suara Si Mbah Wedok mengagetkan saya. Ternyata jam sudah menunjukkan jam 4 sore. Si Mbah lanang sudah berpakaian rapi di ruang tamu. Si mbah wedok masih sibuk menyiapkan menu untuk berbuka puasa. Si Mbah Wedok terlihat kesal pada saya karena tidur saya kelamaan. Untuk menebus rasa bersalah saya, tanpa disuruh saya pun membantu menyiapkan makan dan minum berbuka kami.

"Siapkan kopi buat mbah". Pinta si mbah wedok

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kurma Selengkapnya
Lihat Kurma Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun