Bahkan DPP Golkar dibawah kepemimpinan Bahlil sempat memberikan rekomendasi kepada Andra-Dimyati sebelum akhirnya menarik kembali rekomendasi itu dan mengalihkannya kepada Airin pada injury time menjelang pendaftaran paslon ke KPU Banten.
Pada saat yang sama, PDIP sebagai satu-satunya partai lain yang berada di luar kubu KBM tidak mungkin mengusung sendiri pasangan calon karena perolehan suara atau kursinya di DPRD Banten tidak memenuhi threshold pencalonan hingga terbit putusan MK Nomor 60 yang kemudian mengubah konstelasi pencalonan.
Ironisnya, Airin sudah lama menyosialisasikan diri sebagai bakal Cagub partai Golkar ketika masih dipimpin Airlangga sebelum mundur dari jabatannya. Dan terbukti hasilnya Airin jadi sangat populer di kalangan warga Banten. Termasuk di wilayah Selatan Banten, yang sesungguhnya bukan area main politik Airin sebelumnya.
Ironi lainnya lagi, pada saat Pilpres 2024 Airin adalah Ketua Tim Kampanye Derah (TKD) Banten pasangan Prabowo-Gibran. Dan hasilnya, Prabowo-Gibran menang besar di provinsi Banten.
Tapi semua fakta itu sempat diabaikan elit-elit Golkar dan kubu KIM di Jakarta. Ini sebabnya kemudian Airin sempat berada di ujung tanduk. Beruntunglah, MK menerbitkan putusan 60 yang mengubah ketentuan threshold pencalonan kepala daerah.
Dengan ketentuan baru MK itu, Airin kemudian maju mengambil resiko politik besar dengan menerima pinangan PDIP dan dideklarasikan sebagai Cagub bersama Ade Sumardi, Ketua DPD PDIP Banten sebagai Cawagubnya.
Satu faktor lagi yang secara elektoral memberikan insentif politik (dari publik) secara tidak langsung kepada Airin-Ade adalah fakta bahwa keberhasilan pasangan ini maju sebagai Cagub-Cawagub Banten telah berhasil mencegah munculnya kotak kosong di Pilgub Banten. Tanpa pasangan Airin-Ade, nasib Banten akan sama persis dengan 37 daerah lain yang Pilkadanya hanya diikuti calon Tunggal. Satu diantaranya adalah provinsi, yakni Papua Barat.
Empat PR Airin-Ade
Sekali lagi, angka survei memang bisa berubah secara dinamis. Tetapi dalam rentang waktu yang kurang dari dua bulan kedepan, bukanlah perkara mudah bagi Andra-Dimyati untuk mendekatkan kesenjangannya, apalagi membalik keadaan lalu mengungguli Airin-Ade.
Dari sisi Airin-Ade sendiri, setidaknya ada empat "pekerjaan rumah" yang harus dilakukan.
Pertama, merawat keunggulan (sementara) ini secara piawai melalui kampanye-kampanye yang mencerdaskan sekaligus memikat berbagai segmen pemilih.
Kedua, menjaga basis-basis pemilih loyalnya dengan menggerakan mesin partai dan tim pemenangannya secara solid dan masif di seluruh pelosok Banten agar mereka tak "masuk angin" oleh berbagai potensi serbuan material Pilkada (money politics, aneka jenis Bansos dll).