Berinvestasi di pasar saham ibarat pertandingan olahraga lari maraton. Butuh daya tahan untuk mampu menjalaninya dalam jangka panjang. Mengapa harus jangka panjang? Karena itulah yang dilakukan para investor saham yang terbukti sukses.
Jangan pernah mengira keberhasilan orang-orang seperti Lo Kheng Hong atau Warren Buffett misalnya, semata-mata hanya karena mereka mampu mencatatkan imbal hasil yang tinggi setiap tahunnya.
Morgan Housel dalam salah satu bagian di bukunya berjudul "The Psychology of Money" mengungkapkan sebuah fakta menarik. Dari total harta Buffett yang diperkirakan mencapai $84,5 miliar, ternyata $81,5 miliar baru datang sesudah ulang tahunnya yang ke-65.
Housel mengatakan, dari 2.000 buku bagus yang membahas bagaimana Buffett membangun kekayaannya, hanya sedikit sekali yang mengungkap fakta sederhana yaitu Buffett bukan sekadar investor hebat melainkan ia sudah menjadi investor hebat sejak masih anak-anak. Â Â Â Â Â Â Â Â Â
Dengan kata lain, Buffett secara konsisten menumpuk kekayaannya dari hasil keuntungannya berinvestasi di pasar modal dalam jangka waktu bertahun-tahun.
Sama halnya dengan salah satu investor saham tersukses di Indonesia, Lo Kheng Hong. Mungkin kita sudah sering mendengar kehebatannya kala mencetak keuntungan ratusan hingga ribuan persen dari saham.
Lo Kheng Hong pernah sukses besar kala meraup keuntungan 900% dari saham TINS, 4.000% dari saham INDY, 5.900 % dari saham UNTR, dan paling fenomenal untung 12.500% dari saham MBAI.Â
Ini masih belum memperhitungkan keuntungan dari saham lain yang rata-rata mencatatkan keuntungan multibagger (diatas 100%).
Namun jangan pernah melupakan fakta bahwa Lo Kheng Hong adalah investor yang sudah puluhan tahun berkecimpung di pasar saham. Ia sudah melewati berbagai krisis. Ia tak pernah berhenti atau pensiun dari pasar saham meskipun kondisi pasar sedang lesu atau pesimis.
Jika sekarang hartanya diperkirakan sudah mencapai triliunan rupiah, maka itu adalah hasil dari konsistensinya berinvestasi di pasar saham dalam jangka panjang. Setiap keuntungan yang berhasil diperolehnya dari suatu saham terus menerus ditumpuk lalu diinvestasikan ke saham lain hingga menghasilkan keuntungan yang lebih besar lagi. Â Â
Lo Kheng Hong selalu mengatakan bahwa awal mula ia terjun ke pasar saham juga seperti kebanyakan orang. Ia yang berlatar belakang pegawai biasa di sebuah bank swasta dengan penghasilan kecil, harus berhidup hemat dan menabung sehingga ada dana yang bisa diinvestasikan atau dibelikan saham.
Itu yang secara konsisten dilakukannya sejak puluhan tahun lalu.
"Pensiun dini" dari saham
Sangat berbeda dengan kisah hidup Buffett dan Lo Kheng Hong, ternyata banyak pula kisah investor saham yang akhirnya memutuskan "pensiun dini" dari pasar saham. Mereka menyerah dan merasa gagal. Bahkan mungkin mereka sudah mengalami kerugian dalam jumlah besar sehingga jera.
Harapan bisa meraup kekayaan dari pasar saham ternyata tak seindah impian. Keuntungan besar yang diharapkan sepertinya cuma khayalan karena ternyata yang harus ditanggung justru kerugian.
Mereka menyerah dan tak sanggup menghadapi situasi pasar saham yang sering kali sukar diprediksi. Saat sedang parah-parahnya, harga saham bisa turun dengan sangat dalam.Â
Bayangkan dalam sehari, tiba-tiba harga saham yang kita punya bisa turun hingga belasan persen. Bagaimana pula bila itu terjadi tidak hanya sehari, melainkan beberapa hari? Otomatis nilai sahamnya bisa jatuh ke harga yang paling rendah.
Pasar saham memang unik. Ada kalanya tercipta momen-momen indah yaitu ketika pelaku pasar sedang sangat bergairah. Kita ingat beberapa waktu lalu pernah "booming" saham-saham teknologi dan bank digital. Mereka yang punya saham di sektor tersebut mungkin berpikir bahwa ternyata meraup keuntungan bisa begitu mudahnya. Hampir setiap hari harga sahamnya selalu naik.
Atau momen sesaat ketika penanganan wabah Covid mulai membaik. Setelah sempat anjlok secara drastis, pasar saham kembali optimis. Banyak investor baru bermunculan hingga memunculkan istilah "investor angkatan corona".
Mereka yang beruntung masuk di pasar saham pada momen yang tepat mungkin akan berpikir hal yang sama. Begitu mudahnya mendapatkan uang di pasar saham. Saham apapun yang dibeli, sepertinya sudah pasti akan naik.
Tak heran di berbagai media sosial banyak bermunculan status orang-orang yang pamer keuntungan hasil dari pasar saham. Â Â Â Â Â
Namun sekali lagi, masa "bulan madu" pasar saham pasti ada akhirnya. Cuma beberapa saat, pasar saham kembali lesu. Harga saham pun kembali turun. IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) kembali turun dari level tertingginya.
Nyaris tak ada lagi yang berani pamer portofolio hasil investasinya. Mungkin kondisinya sedang "merah berdarah-darah", lalu apa yang mau dipamerkan?
Mulailah bermunculan berbagai pengakuan. Ada yang awalnya begitu menyanjung pasar saham lalu berbalik menghujat. Mengatakan bahwa pasar saham itu arena judi dan sebagainya. Ada pula yang diam-diam lalu mundur teratur dan memutuskan "pensiun dini" serta menjauhi pasar saham. Â Â
Mindset yang benar
Bila objek yang dimaksud sudah sama yaitu pasar saham, lalu mengapa hasil dan penilaian investor bisa sangat jauh berbeda? Mengapa ada investor yang merasa bahagia dan mampu bertahan hingga puluhan tahun disana, namun di sisi lain banyak pula yang akhirnya jera, kecewa lalu memutuskan "pensiun dini" segera?
Mungkin saja karena sejak awal mindset yang dimiliki pun sebenarnya sudah jauh berbeda. Sebenarnya masih banyak yang mengira pasar saham adalah jalan pintas untuk meraih kekayaan.
Tanpa sadar, sebenarnya mereka sedang membuat pasar saham layaknya arena judi. Alih-alih berinvestasi sebenarnya yang dilakukan adalah murni spekulasi. Membeli saham tanpa punya alasan yang kuat kenapa harus membeli.
Alasannya hanya karena mendengar rekomendasi dan ikut-ikutan orang lain dibarengi harapan harganya akan naik tinggi. Saham diperlakukan layaknya selembar kertas lotre. Â Â Â Â Â
Ketika kebetulan mereka bisa mendapat beberapa keuntungan dalam waktu singkat, rasa percaya dirinya pun drastis meningkat. Namun sebaliknya saat pasar saham tidak memenuhi harapannya, terbukti mereka sangat tidak siap.
Bila sudah memiliki mindset yang benar terhadap investasi di pasar saham, sepertinya kita tidak akan pernah memutuskan untuk "pensiun dini". Jatuh bangun di pasar saham adalah hal yang biasa dan bisa dikatakan merupakan bagian dari proses pembelajaran dan pendewasaan.
Saya mendengar banyak kisah dari investor saham yang pernah gagal dan salah memilih saham hingga harus menanggung kerugian. Namun apakah mereka langsung berhenti dan memutuskan undur diri dari pasar saham? Ternyata tidak. Mereka sempat jatuh namun segera memutuskan untuk bangun dan bangkit kembali.
Sekali lagi harus terus diingat, para investor saham paling sukses di dunia sekalipun pernah salah dan gagal kala membeli saham. Mereka terpaksa harus menjual rugi saham yang dimilikinya. Tapi faktanya itu tak pernah membuat mereka jadi berhenti berinvestasi.
Para investor saham yang sukses selalu mengajarkan bahwa ketika membeli saham, kita harus sudah punya mindset yang benar. Kita harus punya alasan yang sangat kuat sebelum akhirnya memutuskan untuk membelinya.
Yakinkan bahwa kita tahu bisnis saham apa yang akan kita beli. Karena di balik setiap lembar saham ada bisnis yang bekerja, maka pastikan kita benar-benar sudah mempelajari seluk-beluk bisnisnya. Apa produk yang dihasilkan, bagaimana kinerja bisnisnya, siapa manajemennya, berapa banyak laba yang bisa dihasilkan, serta bagaimana pula proyeksi dan prospek ke depannya.
Sebelum benar-benar mempertimbangkan hal-hal diatas, maka langkah yang paling bijak adalah jangan pernah berani membeli.
Lo Kheng Hong sering mengatakan "Tuhan maha pengampun, tapi bursa saham takkan kenal ampun menghukum orang-orang yang membeli saham tapi sebenarnya tidak tahu apa yang sedang dibelinya"
Ketika sudah membeli saham yang menurut kita benar-benar menarik, selanjutnya kita harus punya kesabaran. Berhasil tidaknya suatu bisnis jelas tak bisa dinilai hanya dalam jangka waktu yang pendek, bukan?
Maka berikan waktu yang cukup, biarkan bisnisnya bekerja dan lihat hasilnya untuk membuktikan apakah sesuai dengan proyeksi dan harapan yang sudah kita buat.
Pergerakan harga saham harian tak perlu dipusingkan, selama bisnis perusahaan yang kita beli masih berjalan sesuai harapan. Pergerakan harga saham dalam jangka pendek lebih didominasi oleh sentimen pasar akibat kabar atau berita yang muncul.
Namun satu hal yang pasti, bisnis perusahaan yang terbukti memiliki kinerja yang baik maka cepat atau lambat harga sahamnya pasti akan diapresiasi oleh pelaku pasar.
Akhirnya ketika kita sudah punya mindset yang benar dalam berinvestasi saham, mudah-mudahan kita takkan pernah berpikir untuk "pensiun dini" dari pasar saham. Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â
***
Jambi, 2 Agustus 2023
 Â
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI