Mohon tunggu...
Ina Tanaya
Ina Tanaya Mohon Tunggu... Penulis - Ex Banker

Blogger, Lifestyle Blogger https://www.inatanaya.com/

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kenapa Tenaga Terampil di Australia Dibayar Mahal?

15 Agustus 2016   20:01 Diperbarui: 16 Agustus 2016   11:23 78
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Upah minimum US$ 16,88 per jam setara Rp 185.680 Dengan produk domestik bruto lebih dari US$ 1,52 triliun pada 2012, Australia diyakini memiliki tingkat upah minimum tertinggi di dunia.

Di negara ini, pekerja berumur lebih dari 18 tahun dibayar dengan upah minimum US$ 16,88 per jam. Ini tidak mengherankan bahwa Australia adalah tempat yang sangat populer untuk imigran sejak 1996. Angka ini secara mengejutkan, 563 kali lebih tinggi dari upah minimum terendah, seperti Sierra Leone di Benua Afrika.

Tentu saja, biaya hidup Australia juga jauh lebih tinggi dari negara lain. Untuk menyewa satu apartemen di pusat kota Melbourne misalnya, penduduk setempat harus membayar lebih dari US$ 400-500 per hari.

Hidup Terampil:

Mengingat betapa mahalnya biaya untuk memanggil tenaga kerja terampil, maka  semua penduduk atau masyarakat Australia pada umumnya  memiliki keterampilan untuk urusan rumah tangga dari mengecat,  kerusakan peralatan rumah tangga,  tukang instalasi listrik, tukang air atau "plumber".

Jika mereka tak memiliki keterampilan, biaya hidup akan terkuras habis untuk membayar tukang-tukang yang luar biasa mahalnya.  Jadi jangan heran jika seorang yang hidup di Australia sudah harus hidup akrobatik, harus serba bisa dan mandiri.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun