Beliau juga menjelaskan alasan mengapa beliau memilih jeruk untuk di budidayakan, menurut Bu Mirna menanam jeruk karena buahnya cukup banyak diminati dan dapat tumbuh dengan baik di tanah gambut yang basah.Â
Bu Mirna memilih menggunakan bibit jeruk unggul seperti bibit hasil Grafting. Bu Mirna juga menceritakan bahwa Perawatan tanaman jeruk di lahan gambut agak menantang, terutama dalam pengelolaan air dan nutrisi, tetapi sejauh ini masih bisa dikelola dengan baik.
      Sama seperti responden lainnya Bu Mirna mendapatkan beberapa masalah seperti drainase atau kekeringan lahan, serangan hama seperti kutu daun, dan kadar pH tanah yang tidak seimbang. Jika tanaman jeruk terkena penyakit, Bu Mirna juga menjelaskan bila kebun beliau sedang terserang penyakit beliau menggunakan fungisida organik dan melakukan pemangkasan pada bagian yang terinfeksi. "Jeruk biasanya siap dijual setelah berusia sekitar 2 hingga 4  tahun, tergantung pada perawatan dan kondisi pertumbuhannya" tambahnya.
D. KESIMPULAN
      Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa lahan basah di Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, mendukung berbagai kegiatan pertanian dan peternakan, di mana responden yang diwawancarai mengungkapkan pengalaman mereka dalam mengelola tanaman pangan, ternak ayam, itik, serta holikultura buah.Â
Setiap responden menghadapi tantangan spesifik, seperti serangan penyakit, perubahan cuaca, dan pengelolaan nutrisi, namun dengan metode perawatan yang tepat, mereka tetap dapat memaksimalkan hasil pertanian dan peternakan mereka. Keanekaragaman usaha ini mencerminkan potensi lahan basah dalam mendukung ketahanan pangan dan ekonomi lokal.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H