Kami berencana meninggalkan rumah dinas bakda maghrib. Sementara aku pulang dari mengajar pukul17.30.  Ketika sampai  rumah,  sudah banyak tamu , ada beberapa tetangga,  tokoh masyarakat  dan saudara-saudara  sudah berkumpul. Sesudah salat maghrib berjamaah, kami meninggalkan rumah dinas dengan mobil masing-masing.Â
Aku bersama suami naik mobil dinas, Â duduk di depan mendampingi suami. Ketika perlahan mobil meninggalkan garasi, Â aku melihat sekelebat bayangan putih lewat depan mobil kami menuju pohon kantil. Anak-anak yang duduk dibelakang kami tampaknya tidak melihat, mereka sedang asyik bercerita. Sementara suami yang ada di sampingku sepertinya melihat tetapi wajahnya tetap tenang. Seperti biasa aku membaca ayat kursi.
Dalam perjalanan menuju rumah dinas baru, aku menjadi teringat ceramah seorang ustad. Dalam Al-Qur'an, Allah menyatakan bahwa ilmu manusia hanya setetes air dari samudera ilmu Allah. Yang berupa wujud  hanya tertangkap sebagian kecil saja, apa lagi  yang tidak wujud seperti cahaya, energi, angin dan makhluk halus, yang sering disebut  gaib. Semuanya terasa tetapi tidak tampak wujudnya. Dari sini aku belajar bahwa manusia harus percaya kepada yang Gaib dan Allah adalah yang tergaib dari yang paling gaib.
Dengan mengetahui makhluk gaib, iman kami  semakin kuat dan percaya adanya kekuatan supranatural yang mengendalikan kehidupan kita yaitu Allah. Karena kita sangat tergantung kepada Allah maka ibadah dan doa  menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan ini.
Diiringi purnama yang tersenyum menawarkan asa. Bintang bintang yang berkedip menampakkan aura cahaya indahnya mengantarkan perjalanan kami. Mobil terus melaju meninggalkan kenangan yang takkan pernah sirna.
                                   Â
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H