Mohon tunggu...
Widodo Febri Utomo
Widodo Febri Utomo Mohon Tunggu... Editor - Santri dan Mahasiswa

Instagram : Widodo_febriutomo Facebook : Widodo ( Widodo Febri Utomo ) Twitter : @WidodoFebriU_

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Peran Keluarga untuk Membangun Hubungan Suportif Anak dalam Kajian Ekologi Perkembangan

20 April 2021   21:40 Diperbarui: 20 April 2021   22:34 442
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

  • PENDAHULUAN
  • Anak usia dini merupakan anak yang berada pada rentang usia 0-6 tahun menurut Sisdiknas tahun 2003, dan National Association For The Education Young Children (NAEYC, 2016:5) yang menyatakan bahwa anak usia dini berada pada rentang usia 0-8 tahun, di usia ini adalah proses utama untuk mengembangankan segala aspek perkembangan anak. Anak adalah generasi penerus bangsa yang menjadi tumpuan serta harapan orangtua. Anak perlu dipersiapkan sejak dini agar kelak menjadi sumber daya yang berkualitas serta mampu berperan aktif dalam kehidupan kelak. Oleh karena itu, perlu adanya upaya yang dilakukan sejak dini atau sejak masih dalam kandungan, serta proses pembelajaran terhadap anak harus memperhatikan karakteristik yang dimiliki dalam tahap perkembangan anak.

Prinsip perkembangan menurut Hurlock (2012: 22-47) yang menjabarkan 10 prinsip-prinsip perkembangan anak yakni meliputi perkembangan yang berimplikasi pada perubahan, perkembangan awal sebagai dasar bagi perkembangan berikutnya karena perkembangan awal dipengaruhi oleh proses belajar serta pengalaman anak, perkembangan timbul dari hasil proses kematangan serta belajar, pola perkembangan dapat diprediksi, pola perkembangan mempunyai karakteristik tertentu, perbedaan individu dalam perkembangan dipengaruhi oleh gen serta kondisi lingkungan, memiliki fase-fase tertentu secara periodik dari usia 0 hingga dewasa, memiliki harapan sosial, setiap bidang perkembangan mengandung adanya bahaya baik fisik maupun psikologis, memiliki makna kebahagiaan yang bervariasi. Prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini ini sangat komplek dan bersifat holistik serta adanya pengaruh dari gen serta lingkungan. Pandangan ini juga didukung oleh perspektif ekologis Bronfenbrenner.

  • PEMBAHASAN
  • Menurut teori ekologis Bronfenbrenner seiring dengan perkembangan anak, lingkungan sosial anak terbagi menjadi lima sistem yakni mikrosistem, mesosistem, ekosistem, makrosistem, dan kronosistem. Sistem tersebut membantu perkembangan individu dalam bentuk ciri-ciri fisik serta mental tertentu. Pada dasarnya perkembangan anak dimulai sejak lahir hingga berlangsungnya prosesproses yang sangat kompleks tersebut.

Perspektif anak dapat dilihat ketika mengeksplorasikan atau merepresentasikan ekspresi, pengalaman, persepsi, serta pemahamannya (Sommer, 2010: 23). Bentuk espresi yang diungkapkan anak melalui perspektifnya dapat memberikan gambaran terhadap kondisi anak baik dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, serta kegiatan yang telah dilakukan oleh anak. Anak-anak mampu mengungkapkan sudut pandangnya tentang berbagai hal seperti keluarga, teman, serta kondisi yang sedang dialami oleh anak (Dixon, 2012:83).

Lingkungan keluarga sangat berpengaruh terhadap perkembangan melalui pengasuhan yang diterapkan di dalam keluarga. Berdasarkan teori pengasuhan Brooks (2011: 11) dikemukakan bahwa pengasuhan merupakan suatu proses interaksi dan tindakan yang dilakukan antara orangtua dengan anak. 

Proses ini meliputi berbagai pihak (ayah, ibu, saudara yang berada di lingkungan anak) yangsaling berkesinambungan dalam mengedepankan tumbuh kembang pada anak, sebagaimana yang dikatakan oleh (Fung et.al, 2013: 221) yang menyatakan bahwa keterlibatan seorang ayah dalam pengasuhan dipengaruhi oleh gaya pengasuhan (parenting style), komunikasi orangtua (comminication parent), serta perilaku anak. Adapun penelitian lain yang mengemukakan bahwa pengasuhan ayah yang berkualitas tinggi menjadi sumber utama untuk menempatkan anakanak dijalur perkembangan kognitif dan sosioemosional yang baik (Meuwissen dan Michelle, 2016: 72)

Lingkungan keluarga sebagai penentu dalam perkembangan anak, salah satunya melalui pengasuhan. Orangtua berada pada lingkungan keluarga yang mampu menstimulasi perkembangan anak melalui pengasuhan, sedangkan untuk diluar lingkungan keluarga seperti pendidik.

Pengasuhan orangtua merupakan fondasi yang penting bagi perkembangan anak, dari pengasuhan yang telah diterapkan dalam keluarga memberikan dampak terhadap perkembangan anak yakni seperti sudut pandang dan perilaku anak. 

Pada umumnya semua orang dapat mendapatkan informasi tentang pengasuhan dari sudut pandang orangtua atau orang dewasa, namun jarang sekali untuk mendapatkan informasi tentang pengasuhan melalui sudut pandang anak, sehingga peneliti tertarik untuk mengungkap adanya kecenderungan pengasuhan orangtua melalui sudut pandang anak. Berdasarkan hasil temuan serta permasalahan yang ada, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian secara mendalam mengenai perspektif anak tentang pengasuhan orangtua. Peneliti ingin mengkaji bagaimana cara pandang anak terhadap pengasuhan orangtua melalui gambar yang diekspresikan oleh anak.

Pengembangan karakter anak dapat dilakukan melalui pendidikan karakter yang terstruktur jelas. Musfiroh (2008) menyarankan dalam pengembangan karakter anak sebaiknya memperhatikan isi pengajaran, proses pembelajaran, kualitas hubungan, pelaksanaan aktivitas co-kurikuler dan etos seluruh lingkungan sekolah. Jika konsep tersebut ditarik ke pendidikan informal dalam keluarga maka pengembangan karakter anak perlu memperhatikan kualitas muatan pengasuhan dan proses pengasuhan. Peran orangtua sebagai pendidik bagi anakanaknya merupakan keharusan, karena anak sangat membutuhkan : 1) mencintai dan dicintai; 2) perlindungan hingga merasa aman; 3) bimbingan; 4) diakui; 5) disiplin.

Selanjutnya Heritage Foundation (dalam Musfiroh, 2009) menjabarkan juga tentang strategi pengembangan karakter yaitu :

a. Melibatkan partisipasi aktif anak.

b. Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif sehingga anak merasa aman tinggal di rumah.

c. Pendidikan karakter disampaikan secara eksplisit, sistematis dan berkesinambungan dengan melibatkan aspek knowing the good, loving the good dan acting the good.

d. Memperhatikan keunikan anak.

e. Membangun hubungan yang suportif dan penuh perhatian antara anak dan orangtua.

f. Terdapat model (contoh) perilaku positif.

g. Melibatkan anak dalam kegiatan 'moral'

h. Semua anak tidak ada yang terabaikan.

Teori ekologi menjelaskan bahwa karaktersitik lingkungan keluarga akan mempengaruhi perkembangan anak, karena karakteristik keluarga akan menentukan gaya mendidik orangtua.

Karenanya, dalam al-Quran surah an-Nisa ayat 9, Allah Swt menekankan agar para orang tua benarbenar memerhatikan kondisi anaknya dan tidak dibenarkan meninggalkan anggota keluarganyahidup dalam kondisi lemah (dhi'afan), baik secara ekonomi, pendidikan, mental-spiritual, maupun modal sosial lainnya. Dalam Qs. Al-Nisa'/4 ayat 9 disebutkan:

Artinya : "Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar".

Penekanan dan anjuran yang Allah ungkap di awal ayat, memberi isyarat pada keluarga untuk betul-betul memerhatikan kondisi anggota keluarganya dan menjaga pertahanan keluarga agar senantiasa aman dan selalu memberikan perhatian serta teladan yang baik. Jika dari institusi keluarga kuat dalam berbagai aspek, akan menjamin kondisi masyarakat secara lebih luas.

Keluarga sebagai mikrosistem adalah bagian terkecil dari institusi sosial, yang terjalin dalam hubungan suami isteri atau dalam istilah Arab disebut dengan ahl al-rajul (keluarga yang disatukan oleh nasab keturun).27Dalam al-Quran, ahl al-bait adalah representasi dari teori mikrosistem tersebut. Misalnya dalam Qs. Al-Ahzab/33 ayat 33 :

Artinya : "Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu, dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya".

  • KESIMPULAN

  • Teori ekologi perkembangan mengkaji tentang hubungan timbal balik antara anak dan sesamanya serta lingkungan tempat tinggalnya. Ekologi merupakan satu kajian ilmiah yang bertujuan untuk memahami interaksi yang dinamis dan kompleks antara individu dan berbagai aspek lingkungannya. Implikasi teori ekologi dalam pendidikan karakter dapat dikaji dari sistem yang melingkupi kehidupan individu, yaitu mikrosistem, eksosistem, dan makrosistem. Masing-masing sistem ini memberikan kontribusi pada terbentuknya karakter anak.

  • DAFTAR PUSTAKA

  • Alwisol. (2006). Psikologi Kepribadian. Malang : UMM
  • Azra, A. (2002). Paradigma Baru Pendidikan Nasional Rekonstruksi dan Demokratisasi. Jakarta : Kompas.
  • Febriany, Ina Salma. (2005). Ekologi Keluarga Berbasis Al-Quran dan Upaya Pencegahan Women Trafficking. Jurnal Ulunnuha. Vol. 8 No.2/Desember 2019
  • Koesoema, D. (2007). Pendidikan Karakter. Jakarta : Grasindo
  • Sumaatmadja, N. (2002). Pendidikan Pemanusiaan Manusia Manusiawi. Bandung : Alfabeta

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun