Pekan lalu Dinas Perhubungan Kota Tangerang telah resmi melarang penggunaan klakson telolet di wilayahnya. Faktor keselamatan adalah alasan utama pelarangan klakson telolet.
Fenomena yang umum terjadi adalah ketika anak-anak berkelompok di suatu tempat tertentu untuk menunggu kedatangan bus dan meminta klakson telolet dibunyikan. Tak hanya itu, tak jarang ada anak-anak yang sampai mengadang bus yang sedang lewat.
Saat klakson berbunyi, mereka akan merekamnya dan kemudian bakal dipamerkan melalui media sosial. Ada pula yang langsung joget-joget dengan gembira.
Melihatnya, kadang terpikir bahwa kebahagiaan dan kegembiraan terkadang bisa sesederhana itu. Kebahagiaan anak-anak yang bukan berasal dari kalangan "elite" atau "the have".
Kegembiraan yang kerapkali dicap dengan kata "norak" oleh sebagian mereka yang sejak kecil sampai dewasa selalu merasakan betapa susahnya mengupas buah salak, dan oleh mereka yang menganggap jajan di pinggir jalan itu bisa bikin sakit perut.
Well, barangkali ini hanya soal "mindset".
Soal tren klakson telolet, sebenarnya sudah pernah booming sekitar 2016 silam. Saat itu sempat pula terjadi pro dan kontra sehingga muncul pula ide pelarangan penggunaan klakson telolet.
Saat itu pula beberapa kali tersiar kabar berita tentang kecelakaan akibat mengejar bus telolet, yang bahkan ada yang merenggut nyawa. Rentetan peristiwa yang pada akhirnya melatarbelakangi fenomena klakson telolet dianggap membahayakan sekaligus tak berfaedah.
Hingga kemudian tren telolet berangsur-angsur meredup dan kembali booming belakangan ini.
Soal pelarangan, jika memang telah melalui kajian yang cermat tentu patut diterima oleh semua pihak. Dalam hal ini khususnya para sopir bus, truk maupun kendaraan apapun yang memasang klakson telolet. Juga para anak-anak dan remaja, termasuk bismania yang memiliki hobi menantikan bus telolet.
Bagaimanapun, jika berpotensi membahayakan pengguna jalan, apapun jenis klaksonnya patut dilarang. Bahkan sebenarnya  tak hanya jenis klakson telolet saja, tetapi juga jenis klakson strobo.