Tarif bus berada di angka 25.000 rupiah sekali naik, maka selisih totalnya bisa mencapai nominal 800.000 rupiah per bulan jika dibandingkan naik KRL.
Saya nggak mengada-ada lho. Kenapa bisa? Karena saya harus pakai kombinasi ojol dan MRT jika naik bus. Sebabnya lokasi ngetem bus juga terbilang lumayan dari rumah saya, dan tidak ada penitipan sepeda motor di lokasi itu.Â
Pas turun di Jakarta, busnya juga masih jauh dari lokasi kantor saya. Makanya saat turun bus saya masih harus naik MRT lagi.
Itu kalau saya ya. Mungkin orang lain juga memiliki kombinasi lain dalam penggunaan transportasi selain KRL. Tentu saja ongkos transportasi per bulannya juga beragam, tidak sama tiap orang.
Bisa menghemat sampai 800.000 rupiah bila naik KRL ketimbang bus, membuat saya terpaksa masih senang-senang saja naik KRL. Uang segitu bisa digunakan membayar kebutuhan lain yang saling berlomba naik.
Memang harus diakui, pilihan masyarakat pekerja ibu kota yang tinggal di daerah "sulit" seperti Citayam, Bojonggede, Cilebut hingga Nambo, yang masuk wilayah Kabupaten Bogor, sangat terbatas di sektor transportasi umum.
Bus ke Jakarta pun jadwalnya amat minim. Tidak bisa sesuka hati kita berangkat. Beda dengan KRL yang datang dan pergi di stasiun tiap 5 menit.
Faktor kecepatan juga menjadi keunggulan mutlak KRL Commuterline. Bahkan, banyak orang yang di garasi rumahnya punya dua mobil sekalipun, tak jarang memilih naik KRL karena ingin menghindari kemacetan. Ya, macet memang momok di jalanan ibu kota. Siapa sih yang tidak senewen karena macet?
Bagi pekerja kantoran di ibu kota, naik KRL berarti upaya penghematan dan menekan pengeluaran. Bisa beda lagi artinya bagi pekerja freelance, anak kuliahan, anak sekolah, hingga para pedagang kecil dan pengamen.
Mereka ini tiap hari juga mewarnai ragam latar belakang penumpang yang tiap hari naik KRL menuju ibu kota. Sebutlah pedagang tahu sumedang yang kerap saya temui turun dari KRL saat pulang malam.