Mohon tunggu...
Widi Kurniawan
Widi Kurniawan Mohon Tunggu... Human Resources - Pegawai

Pengguna angkutan umum yang baik dan benar | Best in Citizen Journalism Kompasiana Award 2022

Selanjutnya

Tutup

Gadget Pilihan

Centang Biru WA Tanda Orang Beradab?

9 Januari 2022   12:40 Diperbarui: 9 Januari 2022   13:08 1173
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Persoalan tentang centang biru pada aplikasi WhatsApp alias WA, kini tengah menjadi polemik yang tak kalah penting dari urusan politik dan perselingkuhan. Sebuah statement yang tengah viral di twitter menyatakan bahwa menonaktifkan atau menyembunyikan tanda centang biru pada Whatsapp termasuk perilaku tidak memiliki adab, tidak menghargai orang lain, tidak jujur atau berbohong dalam komunikasi.

Fitur itu sebenarnya disediakan WA, dan pastinya ada setelah melalui sejumlah study dan pertimbangan matang oleh pihak WhatsApp. Jika centang biru nonaktif, berarti si pengirim pesan tidak bisa melihat apakah pesan tersebut sudah dibaca oleh penerima pesan atau belum.

Nah gimana nih gaes? Kalian ikutan tim beradab atau tidak beradab selalu aktifkan centang biru atau tidak nih?

Jujur saja, sebagai pengguna WA, saya termasuk orang yang menonaktifkan centang biru. Bukan karena berniat tidak menghargai orang lain. Jelas nggak lah ya.

Hanya saja, ketika centang biru akun WA saya aktif, justru banyak reaksi dan prasangka ketika saya sudah "terlihat" membaca pesan tersebut tapi tidak kunjung membalasnya.

"Balas dong, jangan cuma di-read doang!"

Atau mereka justru bergegas menelepon saya agar membalas pesannya, sembari mengatakan bahwa saya sudah membacanya tapi nggak mau balas.

Alasan tidak segera membalas WA, walau sudah membacanya

Membaca dan membalas pesan bagi saya adalah dua aktifitas yang berbeda. Keseharian saya saat di manapun, hampir selalu menggenggam smartphone jika memungkinkan. Termasuk saat berada di perjalanan sebagai penumpang ojol ataupun penumpang KRL Commuterline.

Nah, saat di berada di situasi tersebut, saya masih bisa memegang smartphone sambil scrolling menggunakan satu tangan. Ingat ya: satu tangan!

Sebagian besar perjalanan saya naik KRL adalah dengan posisi berdiri dengan satu tangan kiri pegangan dan tangan kanan pegang smartphone sebagai hiburan agar tidak jenuh dalam perjalanan. Dengan satu tangan, saya masih bisa baca-baca artikel, lihat-lihat Instagram, dan baca pesan masuk. Tapi jelas sulit untuk mengetik dengan satu tangan saat berada di perjalanan. Bisa oleng badan saya.

Demikian pula saat kondisi saya sedang dibonceng ojol. Jika terasa ada notifikasi masuk, saya berusaha ngintip apakah pesan itu sangat urgent atau tidak. Tapi yang pasti membalasnya butuh waktu setelah turun dari ojol.

Alasan berikutnya, ketika berada di kantor, di tengah pekerjaan, usai membaca sebuah pesan masuk, tak jarang saya harus kembali berkutat dengan tugas saya saat itu juga. Bisa jadi pula ada rekan kerja atau bahkan bos yang datang atau memanggil guna mengajak diskusi.

Ya otomatis pesan yang tadinya hendak saya balas jadi tertunda dulu karena ada hal urgent yang tiba-tiba datang.

Beda lagi saat di rumah. Tak jarang anak-anak meminjam smartphone saya untuk nonton YouTube. Ketika ada pesan WA masuk, namanya juga anak-anak, mungkin tak sengaja kepencet buka pesan dan kemudian masih dilanjut nonton.

Dari rentetan kejadian seperti itu, dengan pertimbangan saya tidak mau ada salah paham bahwa saya telah membaca pesan masuk tapi enggan segera membalasnya, maka saya pun memutuskan untuk menonaktifkan centang biru.

Apakah saya tidak memiliki adab karenanya? Toh, walau agak lama saya tetap berusaha membalasnya.

Jadi sebenarnya, mau aktif maupun nonaktif centang birunya, sama-sama bisa menimbulkan kesalahpahaman. Sama halnya isi pesan WA yang hanya berupa tulisan singkat, sangat berpotensi menimbulkan persepsi beda dan salah arti.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gadget Selengkapnya
Lihat Gadget Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun