Salah satu tempat di TMII yang keberadaannya baru saya ketahui adalah Taman Budaya Tionghoa. Sekali lagi saya harus angkat topi untuk gagasan menciptakan taman ini. Inilah bukti bahwa Indonesia merangkul beragam etnis dan budaya, termasuk orang Tionghoa yang nyatanya selama ini telah hadir di negeri ini selama ribuan tahun silam dan bersama-sama membangun bangsa Indonesia.
Di taman ini berdiri kokoh patung pahlawan nasional bernama Laksamana Muda TNI (Purn) John Lie atau Jahja Daniel Dharma, seorang Tionghoa yang selama masa perjuangan berada di barisan depan Angkalan Laut untuk menghalau kapal-kapal penjajah.
[caption id="attachment_374729" align="aligncenter" width="600" caption="Foto by widikurniawan"]
Perbedaan adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, tapi sekaligus kekuatan bangsa ini. Toleransi adalah kunci untuk tetap berjalan beriringan dalam perbedaan. Gambaran toleransi di Indonesia salah satunya mewujud dalam bangunan-bangunan keagamaan di TMII yang berdiri berdampingan.
Sebagai orang tua, saya merasa bersyukur bisa menunjukkan pada anak saya secara langsung bangunan tempat ibadah agama-agama yang resmi di Indonesia, tidak hanya melalui buku atau film. Menanamkan pengetahuan sejak dini tentang keberadaan agama-agama selain yang kami anut, bagi saya penting supaya anak paham dan tumbuh sikap menghormati satu sama lain.
“Itu namanya kelenteng Nak, tempat ibadah agama Khonghucu,” tutur saya ketika kami berhenti sejenak di depan Kelenteng Kong Miao yang sedang ramai dikunjungi oleh wisatawan asing yang tengah berfoto.
[caption id="attachment_374730" align="aligncenter" width="600" caption="Foto by widikurniawan"]
Saya sadar bila di usianya saat ini, anak saya tidak bisa dipaksa belajar layaknya anak yang lebih dewasa. Mengajak jalan-jalan ke tempat seperti TMII inilah justru saya anggap baik untuknya karena sesungguhnya dia sedang belajar dengan cara yang menyenangkan. Saya pun harus bersyukur bahwa untuk mengenalkan Indonesia kepada anak tidak harus membawanya berkeliling satu demi satu pulau di Indonesia yang sangat luar biasa luas, melainkan cukup dengan berkeliling di TMII.
Dalam istilah saya, mengajak anak ke TMII adalah salah satu cara saya memupuk Indonesia dalam dirinya. Menabur benih-benih kebangsaan yang kelak akan ia petik sendiri saat mengarungi kehidupan sebagai orang Indonesia.
“Aku mau keliling dunia, aku mau keliling Indonesia,” inilah tekadnya yang selalu diulang-ulang dalam berbagai kesempatan.
[caption id="attachment_374731" align="aligncenter" width="600" caption="Foto by widikurniawan"]