Bulan September yang lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, meluncurkan program digitalisasi sekolah di salah satu pulau terluar Indonesia, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.Â
Peluncuran program ini ditandai dengan pemberian bantuan sarana dan prasarana teknologi informasi dan komunikasi (TIK) kepada sekolah dan gawai atau tablet kepada siswa.
Menurut Mendikbud program digitalisasi sekolah ini sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) menyongsong revolusi industri 4.0. Presiden meminta semua Menteri, termasuk Mendikbud, untuk memberikan perhatian terhadap daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) agar mendapatkan fasilitas-fasilitas pembangunan termasuk di bidang pendidikan.
Revolusi industri 4.0 menuntut SDM dengan kemampuan tertentu untuk mampu bersaing di dunia global. Sejumlah pakar menyebutkan kemampuan yang harus dimiliki untuk mampu bersaing, yaitu kemampuan berkomunikasi, kemampuan berkolaborasi, kemampuan berfikir kritis dan menyelesaikan masalah, serta kreativitas dan inovasi atau dikenal dengan 4C.
Generasi yang memiliki keterampilan tersebut, perlu dipersiapkan melalui pembelajaran sehari-hari di sekolah. Digitalisasi Sekolah merupakan implementasi dari pembelajaran baru atau new learning, yang dipersiapkan untuk menghadapi revolusi industri 4.0.
Karakteristik pembelajaran baru tersebut adalah berpusat pada siswa, menggunakan multimedia, mengutamakan pekerjaan kolaboratif, pertukaran informasi, dan mendorong pemikiran kritis dan pemecahan masalah.
Siswa tidak hanya belajar dengan cara mendengarkan ceramah dari guru dan membaca buku pelajaran, namun ditantang untuk mengumpulkan informasi-informasi yang relevan, berkolaborasi dengan teman, dan memecahkan masalah dari persoalan yang dihadapi, dan mempresentasikannya.
Kelebihan pemanfaatan TIK dalam pembelajaran di sekolah, kata Mendikbud, adalah mempermudah proses belajar mengajar, karena para siswa dapat mengakses semua bahan ajar ataupun bahan ujian dalam satu jaringan.
Selain itu pembelajaran menjadi lebih menyenangkan karena melibatkan multimedia, tidak hanya berupa teks. Untuk mendukung pembelajaran berbasis TIK, digunakan layanan pembelajaran daring yang dikembangkan Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbud (Pustekkom) yaitu Rumah Belajar.
Mendikbud menegaskan, dalam program digitalisasi sekolah, peran guru semakin penting. Guru tidak hanya mengajar, namun guru harus menguasai sumber-sumber di mana siswa dapat belajar. Siswa dapat belajar dari mana saja, dan guru mengarahkan dimana menemukan sumber-sumber belajar yang bermanfaat.
Guru juga berperan sebagai fasilitator dalam pembelajaran. Sebagai fasilitator, peran guru antara lain memfasilitasi, dan mencari narasumber yang relevan dengan materi yang dipelajari.
Selain itu, peran guru yang juga sangat penting adalah sebagai penjaga gawang informasi atau gate keeper. Guru harus mampu menyaring informasi, dan informasi yang membahayakan siswanya harus dibendung oleh guru.
Peran guru sebagai penjaga gawang informasi ini semakin penting karena saat ini arus informasi sangat kencang terutama melalui telepon pintar. Oleh karena itu, guru harus meningkatkan kompetensinya dalam penguasaan TIK dan bagaimana memanfaatkan TIK dalam pembelajaran.
Program digitalisasi sekolah tidak akan menghilangkan proses pembelajaran dengan tatap muka. Pembelajaran dengan tatap muka antara guru dan siswa di kelas tetap penting dan tidak tergantikan, dan akan diperkaya dengan konten-konten digital.
"Program digitalisasi sekolah ini, bukan berarti proses belajar mengajar dengan cara konvensional tidak berlaku, justru tetap penting. Pembelajaran dengan tatap muka antara guru dan siswa masih menjadi cara yang paling tepat, terutama dalam pembentukan karakter siswa," kata Mendikbud saat peluncuran program digitalisasi sekolah.
Di balik peluang pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran, sejumlah kendala masih dihadapi dan perlu dicarikan jalan keluar. Kompetensi sebagian besar guru di Indonesia dalam penggunaan TIK belum memadai, terutama dalam mengoptimalkan TIK dalam pembelajaran.
Selain itu budaya menggunakan perangkat TIK dalam pembelajaran belum terbentuk. Butuh waktu lama untuk membudayakan pembelajaran berbasis TIK. Masih butuh kerja keras untuk mewujudkan pembelajaran berbasis TIK yang efektif namun menyenangkan.
***
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H