Gerimis sore itu mengiringi langkah Dimas menyusuri trotoar. Payung hitam di tangannya seolah tak mampu menampung seluruh beban di dadanya. Sesekali ia menghela napas panjang, uapnya berbaur dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Di ujung jalan, sebuah kafe dengan lampu temaram menjadi pelabuhan sementara bagi hatinya yang karam.
Dimas memesan secangkir kopi pahit, pahit seperti perasaannya saat ini. Bayangan Rani, kekasihnya, masih saja menari-nari di pelupuk mata. Senyumnya, tawanya, bahkan kerutan di dahinya saat sedang kesal, semua terasa begitu nyata. Namun, semua itu tinggal kenangan. Hari ini, Rani telah resmi menjadi milik orang lain.
"Mas, kopinya." Suara barista membuyarkan lamunan Dimas. Ia menyeruput kopi pahit itu perlahan, membiarkan rasa getirnya menjalar di seluruh indra.
"Kenapa harus berakhir seperti ini?" gumamnya lirih.
Dimas teringat pertemuan pertamanya dengan Rani di taman kota dua tahun silam. Rani yang ceria dengan rambut sebahu, duduk di bangku taman sambil membaca novel. Dimas yang terpesona memberanikan diri berkenalan, dan sejak saat itu, mereka tak terpisahkan.
Dua tahun bukanlah waktu yang singkat. Dimas dan Rani telah melewati banyak hal bersama, suka duka, tawa dan air mata. Mereka bahkan telah merencanakan masa depan, sebuah rumah kecil dengan halaman yang dipenuhi bunga matahari, impian Rani sejak kecil.
Namun, takdir berkata lain. Beberapa bulan terakhir, hubungan mereka merenggang. Rani semakin sering murung, senyumnya tak secerah dulu. Dimas berusaha memahami, namun Rani selalu menghindar. Hingga akhirnya, Rani mengungkapkan isi hatinya.
"Mas, maafkan aku. Aku... aku mencintai orang lain."
Kalimat itu bagai petir di siang bolong. Dimas terpaku, hatinya hancur berkeping-keping. Ia ingin marah, ia ingin berteriak, tapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya.
"Dia teman masa kecilku Mas. Perasaanku padanya kembali muncul. Aku tahu ini salah, tapi aku tidak bisa membohongi hatiku sendiri." Rani terisak, air matanya membasahi pipi.