Mohon tunggu...
Warkasa1919
Warkasa1919 Mohon Tunggu... Freelancer - Pejalan

Kata orang, setiap cerita pasti ada akhirnya. Namun dalam cerita hidupku, akhir cerita adalah awal mula kehidupanku yang baru.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Aku dan Sang Waktu

15 Januari 2019   22:45 Diperbarui: 15 Januari 2019   22:57 603
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Ternyata, dia bukan cuma bisa berbicara tanpa membuka mulutnya saja. Tapi, dia juga bisa mendengarkan suara yang ada di dalam hatiku saat ini. Gawat! Pikirku lagi sambil kembali menatap ke arah bibirnya. Kulihat agak meruncing kedepan.

"Dasar anak nakal!" kudengar suara itu lagi, kali ini dengan nada sedikit jengkel.

Jangan-jangan dia adalah Setan yang hendak menggangguku? Pikirku lagi sambil kembali menatap wanita cantik yang mengenakan jubah panjang berwarna hitam pekat di depanku itu penuh selidik.

"Haa.. Aku menggodamu? Apa tidak salah?" kudengar lagi suara itu, tapi kali ini suara itu keluar berbarengan dengan mulutnya yang terbuka sedikit lebar. Mungkin dia sudah tidak tahan lagi untuk menutup mulutnya itu lebih lama di depanku.

"Apakah engkau adalah jelmaan Setan yang hendak menggodaku?" tanyaku penuh selidik.

"Iblis saja enggan lama-lama berada di dekatmu, apalagi aku?" kata wanita cantik yang mengenakan jubah panjang berwarna hitam pekat ini, lalu tertawa cekikikan sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Jangan suka menuduh sembarangan. Tidak baik!" katanya lagi setelah tawanya sedikit reda barusan.

"Lantas? Kenapa engkau menghalangi langkahku ketika aku hendak mendatangi suara panggilan itu?" tanyaku lagi pada wanita paruh baya yang mengenakan jubah panjang berwarna hitam pekat di depanku itu.

"Pakaianmu terlalu kotor untuk pergi ketempat suara itu," jawabnya kalem.

Kuperhatikan wanita cantik yang mengenakan jubah panjang berwarna hitam pekat di depanku. Sedikit memiringkan kepala, aku coba mengintip ke arah rambut hitam panjangnya yang terlihat begitu indah dari balik jubah hitam yang menutupi sebagian kepalanya itu.

"Kenapa engkau memiringkan kepalamu sambil terus menatapku?" tanyanya lagi, sambil  tersenyum simpul menatap ke arahku.

"Apakah engkau memiliki sepasang tanduk kecil di kepalamu?" tanyaku sembari menatap kepalanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun