Mari sedikit membedah kedalaman Anak Semua Bangsa yang membuatnya dibenci dan ditakuti penguasa.
Menjadi Korup Bersama
Perjumpaannya dengan seorang pemuda dari negeri Tiongkok memberi pengetahuan dan kesadaran baru bagi Minke tentang bagaimana kekuasaan yang korup bisa langgeng dan terus memimpin. Yakni dengan menaklukkan orang-orang pandai dan mengajaknya ke dalam kekuasaan. Sementara gayung bersambut, banyak orang pandai dan ahli yang "genit" mencari perhatian agar bisa turut serta menumpang kereta mewah kekuasaan.
Memang golongan-golongan muda yang pandai merupakan lawan yang tangguh bagi penguasa. Tapi mari renungkan dialog Minke dengan sahabatnya dari Tiongkok ini: "Sepandai-pandai ahli yang berada dalam kekuasaan yang bodoh, ikut juga jadi bodoh".
Bukankah fenomena pada masa penjajahan tersebut masih berlanjut hingga sekarang? Masih terus kita saksikan "simbiosis" antara penguasa dan golongan pandai. Generasi yang lebih muda masuk dalam lingkar kekuasaan dengan dalih "akan memperbaiki dari dalam". Sesampainya di dalam ternyata mereka melepas pakaian untuk berganti jubah sehingga menjadi sama dengan generasi tua yang korup.
Kekuasaan membuat orang-orang pandai menjadi bodoh. Dipimpin penguasa korup, para ahli bisa ikut menjadi korup. Akhirnya secara bersama-sama para ahli dan orang-orang pandai itu akan menyokong kekuasaan yang korup.
Persekongkolan Penguasa, Media, dan Pengadilan
Sebuah peristiwa telah mengubah pandangan Minke terhadap koran tempatnya biasa menyumbang tulisan. Koran yang dalam kisah "Bumi Manusia" dipuja oleh Minke habisan-habisan, pada "Anak Semua Bangsa" berubah menjadi koran yang sangat dibencinya.
Minke mengetahui sebuah tulisannya telah diubah oleh redaksi sehingga saat diedarkan isinya jauh menyimpang dari kebenaran yang mulanya ditulis oleh Minke. Berita yang telah dimanipulasi tersebut akhirnya mencelakakan sahabatnya.
Lewat bantuan seorang sahabat lainnya, Minke mendapat wawasan bahwa koran tersebut sebenarnya koran kolonial yang mengabdi pada pabrik gula. Apa pun akan dilakukan oleh koran tersebut untuk mendukung kepentingan kolonial dan pabrik gula. Tulisan dan berita yang mengungkap penderitaan pribumi akibat kolonialisme dan pabrik gula tidak diloloskan. Sebaliknya justru bisa dimanipulasi untuk berganti menyerang rakyat biasa.
Anak Semua Bangsa yang terbit pertama kali pada 1980 sudah  memprediksi perilaku media di era modern sekarang. Jika dulu koran bersekongkol dengan penguasa kolonial dan pabrik gula, kini kecenderungan serupa juga nampak. Yakni media-media yang membelot dari kepentingan rakyat untuk berselingkuh dengan penguasa dan pemilik modal. Orang-orang berkuasa pada era sekarang juga rajin mendekati media untuk memperteguh kepentingannya. Suatu yang buruk dari penguasa bisa diberitakan sebagai "kebaikan" dengan rekayasa media. Sebaliknya, kebenaran yang berasal dari pengalaman rakyat dibatasi penyiarannya karena bisa mengganggu kebenaran versi penguasa.