Memang telah ada beberapa teknologi untuk mengelola dan mengolah sampah plastik. Misalnya diubah menjadi energi yang ramah lingkungan atau membakar dengan insinerator. Namun, semua itu membutuhkan perhitungan dan pengawasan yang ketat agar efisiensinya yang tinggi. Jika tidak cermat, penanganan sampah plastik menggunakan insinerator justru akan menghabiskan lebih banyak bahan bakar minyak. Sedangkan hasil sampingannya berpotensi menjadi residu yang mencemari udara, air, dan tanah.
Begitu problematiknya sampah plastik, maka penanganannya membutuhkan intervensi dan komitmen tinggi yang dimulai dari level kebijakan pemerintah. Beberapa upaya telah dilakukan untuk menjaga lingkungan dari limbah domestik, termasuk sampah plastik. Namun, hasilnya belum optimal. Sebab implementasi aturan pengurangan dan pengendalian sampah plastik cenderung bersifat temporer.
Ambil contoh kebijakan kantong plastik berbayar yang sempat masif diterapkan di tempat perbelanjaan. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan ketika saya berbelanja, beberapa minimarket dan swalayan kembali memberikan kantong plastik secara cuma-cuma kepada pembeli. Di beberapa fasilitas umum yang semula terdapat tempat khusus pengumpulan botol plastik pun kondisinya kurang terurus.
Membangkitkan Kesadaran
Sambil terus menuntut pemerintah dan swasta untuk melaksanakan kewajiban pengendalian sampah serta menyediakan fasilitas pengolahannya secara memadai, masyarakat sudah saatnya lebih tersadar untuk menunaikan peran serupa.Â
Gerakan kultural perlu dilakukan setiap individu. Salah satu cara terbaik untuk menjaga lingkungan dari limbah domestik ialah mengurangi potensi timbulnya sampah plastik.Â
Dimulai dengan menekan perilaku konsumtif yang dipicu oleh keinginan mengikuti tren atau untuk pamer konten di media sosial. Sebab banyak di antara kita seringkali membeli minuman kekinian dalam gelas plastik karena menganggap kemasan, label, atau warnanya instagramable. Tidak jarang seseorang membeli beberapa gelas minuman sekaligus untuk membuat komposisi yang menarik saat dipotret dan dipajang di instagram.
Sesekali hal tersebut bisa dimaklumi. Namun, jika kebiasaan semacam itu terus berulang maka kita telah aktif menjadi produsen sampah. Semakin banyak gelas plastik yang berakhir sebagai sampah, semakin banyak pula energi yang kita buang dengan sia-sia. Sekali lagi perlu diingat bahwa untuk membuat satu gelas plastik dan mendaur ulang sampahnya sama-sama menghabiskan energi yang tidak sedikit.Â
Oleh karena itu, kita perlu mengambil kesempatan yang ada untuk mempraktikkan perilaku yang lebih baik dalam menjaga lingkungan dari limbah domestik sekaligus mendukung konservasi energi. Menggunakan plastik berarti menggunakan energi. Membuang plastik sebagai sampah juga membuang-buang energi.Â
Prinsipnya ialah memanfaatkan yang sudah ada dan yang kita miliki lebih baik daripada  memproduksi sampah. Menggunakan botol air minum  sendiri bukan hal yang memalukan. Mengisi ulang air minum di fasilitas yang tersedia tidak akan membuat kita terlihat kekanak-kanakan.