Sekian lama langkah kaki tertahan, sekarang kita punya alasan terbaik untuk pulang. Memasuki lagi ruang-ruang bersama penuh kenangan. Menghirup lembut aroma kampung halaman. Saatnya semua rindu ditumpahkan.
Wily, seorang teman di pascasarjana UGM tersenyum sumringah. Rencananya mudik ke Kupang, NTT pada lebaran tahun ini bakal terlaksana.
Beberapa hari lalu ia baru saja memastikan keberangkatannya. Hampir ia gagal mendapatkan tiket pesawat karena beberapa kali halaman pemesanan tiket dari aplikasi akomodasi yang ia akses tidak bisa memproses transaksi. Berulang kali muncul notifikasi akibat gangguan server sehingga pemesanan tiket tak bisa diselesaikan.
Namun, Wily terus mencoba hingga akhirnya berhasil melakukan pemesanan dan pembayaran tiket pada Selasa (19/4/2022) pukul 22.30. Tiket seharga 1,1 juta rupiah akan membawanya terbang dari Surabaya menuju Kupang pada 26 April 2022.
Sebagai nonmuslim Wily memang tidak merayakan Idulfitri. Namun, baginya mudik menjadi semacam keharusan sebagai perantau.
Mengikuti kebiasaan masyarakat Indonesia pada umumnya, Wily selalu antuasias menyambut datangnya lebaran. Sebab pulang ke kampung halaman saat lebaran selalu mendatangkan kebahagiaan yang berlipat dibanding pulang pada waktu-waktu lainnya.
Apalagi sudah 2 tahun Wily tidak mudik. Pandemi Covid-19 menahan langkahnya untuk tetap berada di Yogyakarta saat lebaran 2020 dan 2021. Membuat ia punya banyak timbunan rindu yang sudah tak terbendung.
Meski panggilan video sering ia lakukan bersama keluarga di Kupang, itu belum cukup dan tidak sama artinya dengan sentuhan fisik secara langsung. Begitu pula kiriman-kiriman paket dari Kupang yang beberapa kali ia terima di Yogyakarta tidak bisa menyamai suasana rumah.
Wily sebenarnya punya saudara di Yogyakarta. Sebab ibunya berasal dari Sleman. Namun, bagi Wily kampung halamannya ialah Kupang. Oleh karena itu, saat pemerintah melonggarkan pembatasan sosial dan mengizinkan mudik kembali dilaksanakan, ia kembali mendapatkan alasan terbaik untuk pulang.
Rencana mudik segera disiapkannya dengan matang. Mulai dari waktu keberangkatan, kapan membeli tiket, hingga barang-barang apa saja yang akan dibawanya.
Kepada saya Wily sempat meminta saran oleh-oleh yang perlu dibawanya dan rekomendasi tempat membelinya. Saya menyebutkan salah satu kios di Pasar Beringharjo sayap selatan tempat saya biasa membeli Yangko. Sementara Bakpia saya menyarankannya untuk datang langsung ke dapur salah satu merek bakpia terkenal di dekat Malioboro jelang hari keberangkatan.
Kini, Wily tinggal menghitung hari untuk pulang. Ia memutuskan terbang dari Surabaya. Dari sana ia akan mudik bersama temannya yang sama-sama berasal dari Kupang. Tiket kereta dari Yogyakarta ke Surabaya pun sudah dikantonginya. Semua benar-benar ia siapkan sebaik mungkin demi perjalanan pulang yang sudah lama dinantikan.
Kebahagiaan Wily tentu juga dirasakan oleh kita semua yang hendak mudik lagi tahun ini. Meski kadar rindu setiap orang berbeda dan tak bisa diukur dengan standar yang sama, tapi hiruk pikuk mudik menimbulkan keriaan dan keriuhan serupa.
Saya yang meski kampung halamannya tak sejauh kampung halaman Wily juga merasakan bagaimana tegangnya berburu tiket kereta api. Sebab selain harganya pasti melonjak, juga jadi rebutan banyak orang. Tidak jarang beberapa orang terpaksa menunda mudiknya gara-gara tiket untuk hari keberangkatan yang diincar telah habis.
Apalagi semenjak pemesanan tiket dipermudah melalui berbagai kanal digital. Muncul fenomena begadang dan berburu tiket yang dilakukan serentak oleh para calon pemudik. Dulu sebelum pandemi Covid-19, media sosial sering ramai oleh keluhan netizen yang kehabisan tiket kereta api. Halaman yang sulit diakses hingga server yang tumbang juga jadi berita.
Saya beruntung karena tiket kereta api ke kampung halaman relatif lebih tersedia. Sebab banyak kereta dari berbagai jurusan yang melaluinya. Kehabisan tiket kereta A, saya bisa menumpang kereta B, C, atau D. Jika tak bisa naik kereta, mudik dengan bus juga tak masalah.
Walau demikian tetap perlu untuk memesan tiket mudik jauh-jauh hari. Selain untuk mendapatkan harga lebih murah, nomor tempat duduk pun bisa dipilih lebih leluasa. Membandingkan harga tiket antar aplikasi pemesanan juga perlu dicoba. Sebab selama musim mudk lebaran, sejumlah aplikasi biasanya memberikan diskon atau cashback yang nilainya lumayan.
Dengan mendapatkan tiket lebih awal, konsentrasi bisa segera dialihkan untuk menyiapkan keperluan lain. Membeli oleh-oleh, misalnya.
Dulu saya sering mudik dengan kedua tangan membawa barang bawaan dan oleh-oleh. Sebab tak lengkap rasanya jika pulang dari rantau, tapi tak menenteng bakpia, yangko, dan sebagainya. Meski orang tua tak memesannya khusus dan saudara juga jarang meminta banyak oleh-oleh, tapi buah tangan agaknya tak boleh ditinggalkan. Risikonya tentu menambah anggaran.
Maka seiring waktu saya memilih membeli oleh-oleh secukupnya. Lalu semenjak pandemi dan tidak bisa mudik, oleh-oleh tetap saya kirimkan ke kampung halaman lewat jasa ekspedisi. Ternyata cara demikian lebih praktis.
Oleh-oleh yang dikirimkan terlebih dahulu secara terpisah bisa mengurangi barang bawaan saat mudik. Asalkan dikemas dengan rapi dan aman, serta memilih ekspedisi yang tepat, oleh-oleh bisa sampai dengan selamat. Namun, penting untuk mengetahui jadwal operasional kurir ekspedisi selama masa lebaran. Agar paket bisa tiba tepat waktu.
Sehari menjelang hari keberangkatan, pastikan semua kebutuhan telah siap dan tak ada yang terlewat. Bawalah pakaian secukupnya menyesuaikan lama waktu di kampung halaman.
Gunakan tas atau koper yang paling nyaman. Saya biasanya membawa satu tas punggung untuk mewadahi laptop, kamera, aneka kabel dan beberapa benda lainnya. Sedangkan baju, buku, dan sejumlah kebutuhan dimasukkan ke dalam koper atau tas jinjing.
Penting untuk diingat bahwa semenjak pandemi Covid-19, perjalanan tak pernah lagi sama. Termasuk mudik yang melibatkan jutaan orang berpergian secara nyaris serentak. Oleh karena itu, tetap waspada dalam membawa dan menjaga diri.
Mematuhi protokol kesehatan sepanjang perjalanan akan mengantarkan kita ke kampung halaman secara lebih sehat. Jangan lupa melengkapi tubuh dengan vaksin penguat. Bawalah masker dan hand sanitizer lebih untuk bekal di kampung halaman. Apalagi lebaran di kampung biasanya lebih meriah dan melibatkan banyak orang.
Saat hari keberangkatan, datanglah lebih awal ke stasiun, terminal, atau bandara sesuai moda yang dipilih. Jangan lupa memberi tahu keluarga di kampung halaman. Mulailah perjalanan pulang dengan berdoa.
Selama perjalanan cobalah membayangkan wajah-wajah yang sebentar lagi akan kita sapa dan peluk secara nyata. Orang tua, keluarga, saudara dan teman-teman lama. Nikmati perjalanan dengan mengurai kenangan-kenangan yang ingin kita hirup lagi di kampung halaman.
Selamat kembali pulang.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI