Memasuki penghujung Ramadhan, puasa terasa kian berat. Daya tahan tubuh terus menurun karena sudah 20 hari lebih berpuasa. Pikiran mulai digoda berbagai pernak-pernik kebutuhan lebaran. Namun, kegembiraan kian membuncah, hari kemenangan akan diraih, kembali ke Fitri, kembali ke asal, kerinduan kampung halaman.
Mudik dalam tradisi masyarakat Indonesia, adalah luapan kegembiraan setelah lama merantau di tanah orang. Para perantau yang mengadu nasib di kota pada hari Lebaran dapat bertemu dengan sanak saudara, keluarga, serta kerabat di tempat kelahirannya. Rasa haru mewarnai ajang tali silaturahmi, karena mereka selama satu tahun atau lebih berpisah kini dapat berkumpul, bercengkerama, bersendau gurau, serta melepas rindu antar saudara dan kerabat. Dari silaturahmi ini, timbullah rasa kebersamaan, kekeluargaan persatuan dan kesatuan, sehingga dapat merasakan kembali hidup dalam kerukunan, atau rukun dalam kehidupan. Pada saat mudik; kita bisa menjaga silaturahim dengan kerabat di kampung halaman atau lebih jauh lagi kita bakal tetap ingat kepada asal-muasal kita.
Mudik adalah refleksi sekaligus juga reorientasi bagi para perantau. Di kampung halaman, kita akan merasa sedemikian kecil dan terasing. Kecil bahwa, ada sebuah kekuatan yang lebih besar (selain Tuhan tentunya) yang menggerakkan kita, mengontrol, bahkan memberikan energi yang luar biasa. Rumah, menjadi tempat segala penat menyadarkan segala keluh kesah dan hasrat yang kadang tidak mampu kita kendalikan di tanah orang. Orang tua, sanak saudara dan teman sepermainan adalah kekuatan besar yang membuat para perantau menjadi merasa sangat kecil.
Keterasingan tentu saja akan menerpa, kita mungkin akan bisa mengenali kenangan masa kecil di tengah geliat perubahan pembangunan. Desa, sudah tidak lagi menunjukan wajahnya yang ramah dan bersahaja. Globalisasi ternyata sudah menyusup dan mengerogoti tatanan dan nilai yang selama ini dijaga oleh masyarakat. Nyaris, hampir tidak ada beda dengan kehidupan di Kota Besar. Batasan antara desa dan kota hanya pada nilai ekonomis peredaran uang. Semua seragam, apa yang sedang menjadi trend di kota besar juga menjadi bahan trend di kampung-kampung. Media televisi adalah media paling cepat menyampaikan perkembangan gaya hidup dan gossip politik dan selebritis.
Namun Mudik, bukan hanya melepas kerinduan secara lahiriah, tapi juga batiniah. Mudik bisa juga berarti konsolidasi kultural spiritual, sebagai sarana refleksi dan reorientasi. Paraperantau seperti mengisi kembali kekosongan jiwanya, sama seperti Handphone yang kehabisan baterai. Mudik adalah ritual mencharge jiwa dan spirit, untuk kemudian kembali ke kota dan begulat dengan berbagai macam tantangan dan masalahnya.
Mudik juga mampu menciptakan gairah dan spirit memperbaiki etos kerja. Mudik adalah jeda di mana orang menghilangkan sejenak keruwetan dan kebosanan hidup di kota. Kita tahu bahwa pembagian jam-jam istirahat ternyata sangat berpengaruh terhadap produktifitas kerja para karyawan atau buruh. Bahkan pakar teori organisasi sepakat bahwa ada pengaruh signifikan antara produktivitas kerja dengan pembagian jam-jam istirahat ini. Ini disebabkan terkait dengan faktor ritme psikologi orang. Sama dengan kondisi para pemudik kita. Di tengah kesibukan kerja di kota, mudik adalah jeda yang berarti untuk mengembalikan etos kerja. Di sinilah orang kembali dapat menunaikan pekerjaan dengan hasil optimal.
Tanah Pengabdian
Jika kampung halaman adalah medan energi yang mampu menciptakan spirit dan semangat baru, maka medan pertarungan hidup sesungguhnya adalah tanah rantau. Para perantau memiliki semangat juang yang tinggi, bahkan kadang kecintaannya terhadap tanah rantau melampaui batasan kultural antara pribumi dan pendatang. Tanah rantau, bukan hanya sekedar tempat mendulang uang, menumpuk kekayaan, mengejar status sosial, tapi juga arena pengabdian dan peneguhan identitas jati diri. Seperti kata pepatah “Dimana bumi dipijak disitulah langit dijunjung”.