Agenda berikutnya, yang sudah sangat ditunggu-tunggu yakni jalan-jalan. Kali ini, aku dan Yanti akan menyeberang ke Samosir bersama bapak-mama dan adik-adik. Samosir, I'm coming!
Menurut legenda setempat, Samosir adalah anak dari Toba dengan istrinya Jelita---seorang putri yang dikutuk menjadi seekor ikan. Pulau seluas 1.444,25 km2 ini dikelilingi Danau Toba yang memiliki panjang 100 km, lebarnya 30 km, dan kedalaman 508 m (terdalam kedua di Indonesia).
Kami berboncengan dengan sepeda motor. Dari Pelabuhan Tigaras menyeberang ke Samosir menggunakan kapal motor, perjalanan kurang lebih 40 menit. Akhirnya berkesempatan mengunjungi danau legendaris yang aku pelajari di buku paket SD!
Istimewanya lagi, aku mengunjungi Danau Toba dengan sang kekasih, calon istri yang rumahnya dekat dengan tepian Danau Toba. Aku bangga menjadi Orang Indonesia. Aku diberkati punya calon istri Orang Batak.
Dari pelabuhan Simanindo, Samosir kami memacu motor sekitar 15 menit. Tujuan pertama adalah Pantai Batu Hoda. Menurut Yanti, pantai danau di Samosir lebih bagus daripada di daerah Tigaras. Konturnya berpasir berwarna keputihan, bukan berbatu maupun pasir yang kehitaman.
Bagi Yanti dan adik-adik (satu adik masih kuliah di Salatiga), ini adalah piknik baru sejak terakhir mereka piknik zaman sekolah. (Dulu, Yanti dan adik-adik sering diajak piknik oleh bapak-mama.) Demikian pula bagi bapak-mama yang hari-harinya sudah dihabiskan untuk bekerja di ladang. Bersyukur dalam momen kunjungan Kris bisa sekalian piknik meski sederhana.
Selain pasirnya yang putih, Pantai Batu Hoda menyajikan pemandangan menawan. Airnya jernih, tidak banyak sampah (semoga terus terjaga kebersihannya ya!), dan bebatuannya halus. Di belakang sana Tuhan sajikan latar belakang perbukitan yang kebiruan diselimuti awan putih. Indahnya!
Setelah cukup berfoto, kami rehat di pondok yang disediakan pengelola pantai. Kami sudah membawa bekal makanan dari rumah. Cukup membeli kelapa muda untuk minuman.
Selepas dari pantai, kami mampir ke Batak's Museum Hutabolon/ Museum Hutabolon Simanindo. Museum ini tidak terlalu luas. Berdiri di sebuah rumah adat Batak (rumah bolon). Di dalamnya disajikan beberapa perlengkapan nenek moyang Orang Batak, termasuk kain ulos yang menjadi ciri khas Orang Batak.
Di sekitar museum terdapat teater terbuka yang 'dipagari' beberapa rumah bolon. Melihat arsitektur rumah adat Orang Batak ini aku dibuat kagum. Di zaman pra-teknologi, Orang Batak bisa membangun rumah semegah ini. Bahan dasarnya sebagian besar dari kayu, tidak ada menggunakan satu pun paku.
Dekorasi luarnya berupa ukiran yang dicat dengan kombinasi warna merah, hitam dan sedikit putih. Menawan!
Biasanya, di teater terbuka ini ada live performance tarian adat Batak. Sayang, saat kami datang tidak pas waktu pertunjukan. Pasti menarik bisa menonton pertunjukan langsung tarian adat Batak.
Di sekitar museum juga terdapat makam para keluarga pendahulu kampung (sepengetahuan Yanti). Makam Orang Batak tidaklah semenyeramkan namanya seperti halnya di Jawa. Makam di sini didesain sedemikian hingga menyerupai rumah. Alih-alih seram, justru kesan rapi, elok dan indah yang ditampilkan. Tentunya dengan biaya pembangunan dan perawatan yang tidak murah. Uniknya kebudayaan Indonesia!
Setelah puas berkunjung, kami segera melanjutkan perjalanan. Harus segera menuju pelabuhan supaya tidak ketinggalan kapal. Jarak museum ke Pelabuhan Simanindo sudah dekat, cukup 5 menit dengan motor. Jalan-jalan kali ini cukup memuaskan. Sekali dayung tiga pulau terlampaui. Satu perjalanan bisa mengunjungi beberapa tempat wisata menyeberangi Danau Toba dan menginjak Pulau Samosir. Sambil berkenalan dengan keluarga Yanti juga bisa mengunjungi tempat wisata di sekitar Danau Toba. --KRAISWANÂ
Referensi:Â 1
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H