Pythia harus mandi, lalu minum air suci yang mengalir di dekat kuil, yang dipercaya punya kekuatan magis. Juga diadakan persembahan hewan kurban.
Tidak hanya Pythia yang wajib membersihkan diri sebelum meramal. Peziarah juga diwajibkan mandi di mata air jernih yang ada di lokasi kuil.
Saat mengucapkan ramalannya, Pythia digambarkan duduk di kursi tinggi semacam tripod di atas celah di pegunungan. Dipercaya ada celah tertentu di pegunungan yang dianggap sakral, dan menjadi tempat yang tepat untuk bernubuat.
Sumber kuno menyebut dua hal bertentangan tentang cara Pythia mengucapkan ramalannya. Ada yang menyebut Pythia meramal dengan suara yang jelas. Tapi ada juga yang menyebut Pythia meracau, seperti berada dalam kondisi trans, tak sadar saat meramal.
Racauannya itu dianggap sebagai wahyu yang diturunkan oleh Dewa Apollo. Kehadiran Dewa ditandai dengan timbulnya bau wangi di sekitar kuil.
Ucapan atau racauan Pythia, lalu dicatat sebagai syair oleh imam yang hadir. Setelah dicatat, syair ini kemudian ditafsirkan. Hasil ucapan ataupun racauan peramal yang dicatat sebagai syair ini, lalu dianggap sebagai nubuat.Â
Dari Urusan Jodoh sampai Urusan Politik
Kalaupun ucapan peramal itu disebut meracau, para ilmuwan modern menghubungkannya dengan kemungkinan adanya gas yang keluar dari celah di pegunungan di Kuil Apollo.
Menurut penelitian tahun 2001, pada zaman Yunani kuno di lokasi Kuil Apollo diduga ada konsentrasi tinggi dari gas etilen atau gas lainnya. Jika terhirup uap dari gas tersebut, bisa menimbulkan efek halusinasi.
Bagi ilmuwan modern, racauan peramal itu diduga disebabkan oleh zat-zat tertentu yang kemudian terhirup oleh si peramal. Tetapi pada zamannya, ucapan ramalan itu dipercaya sebagai nubuat dari dewa.