Aryo   : "Iya dek aku juga tau kok. Aku juga pengin sekali pulang dek. Tapi aku belum bisa pulang dek. Aku juga tidak mengizinkan kamu pulang sendirian dek. Bahaya."
Sofi mengangguk tanda setuju. Mereka berdua lantas bergegas mengambil air wudhu kemudian melaksanakan sholat berjamaah.
      Dua tahun kemudian, waktu itu Sofi tengah hamil tua. Suaminya pun mengambil cuti guna menjaga Sofi yang sudah hampir waktunya melahirkan. Sore itu, Aryo dan Sofi bergegas ke rumah sakit. Diinjaknya pedal gas dalam-dalam agar cepat sampai. Setelah sampai Sofi pun dibawa ke ruang persalinan. Aryo menunggu di luar. Jantungnya berdegup kencang memikirkan sang istri dan buah hatinya. Dokter pun keluar dari ruang persalinan. Aryo segera menemui dokter itu.
Aryo   : "Gimana dok persalinan istri saya?"
Aryo bertanya dengan nada yang gugup. Dokter itu kemudian menjawab
Dokter : "Alhamdulillah lancar. Anaknya laki-laki."
Aryo pun segera masuk ke ruang bersalin itu. Dilihatnya anak laki-lakinya di samping istrinya. Istrinya pun bersyukur karena prosesnya lancar dan hari ini adalah hari dimana sebuah karunia besar dari Allah SWT bagi Aryo dan Sofiyaitu dengan dititipkannya seorang anak laki-laki. Anak tersebut diberi nama Jofran Ardiansyah.
      Dua hari pasca melahirkan akhirnya Sofi dibawa pulang. Kini di rumah sudah ada yang menemani Sofi disaat suaminya bekerja yaitu sang buah hati. Disamping rasa kegembiraan akan datangnya sang buah hati terselip rasa kerinduan kampung halaman karena sejak Aryo dipindahtugaskan di Kudus, mereka hanya setahun sekali saat lebaran bisa pulang kampung. Itupun tidak lama. Sebenarnya Sofi dan Aryo ingin sekali menjenguk orang tuanya namun karena tuntutan tugas sampai saat ini belum ada waktu untuk kembali ke Jogja.
Sofi    : "Mas, kapan ya kita bisa balik ke kampung halaman?"
Aryo   : "Besok kalau ada dokter penyakit dalam selain aku di rumah sakit itu, aku bisa minta izin."
Aryo juga memiliki keinginan pulang ke Jogja namun karena dokter penyakit dalam hanya Aryo maka mau tidak mau setiap hari meski hari liburpun tetap bekerja. Terkadang kalau ada panggilan pasien yang darurat pun ia harus siap.