Mewakili mahasiswa,rakyat tertindas,buruh,dan para petani yang masih sibuk mengairi sawah dikala kemarau panjang. Dan masih sama permainan sebelum wajah mereka di coblos dalam pemilu dan setelah duduk dikursi empuknya “Bullshit”. Omongan mereka hanya seperti berita viral di media sosial hanya omong kosong sementara kemudian menghilang kala ada yang lebih viral yakni Bapak Mensos terjangkit Virus Koruptor sendiri dan hasilnya dia sebenarnya harus di suntik vaksin racun tikus sesuai dengan pidatonya “koruptor dihukum mati”.
Beginilah kondisi negara pesulap yang sedang menjalankan progam pembangunan untuk menuju negara para Investor dan mencoba menjadi negara top scor kasus korupsi terbanyak. Namun tenang kami para mahasiswa,buruh,para petani,dan segenap rakyat miskin akan terus mengawal negara ini sampai kami memanggil generasi selanjutnya dengan sebutan cucu dan generasi kami selanjutnya itu akan memanggil generasi selanjutnya cucu.
Paparan di tasa hanya sedikit ocehan ketika sang penulis berada dalam zona ketidakwarasan moral, ya memang benar tidak waras moral karena moral sehatnya telah banyak dikhianati oleh para pemimpin.
Mungkin kalian akan menemukan beberapa penafsiran dari bacaan ini dan inilah yang saya harapkan agar kalian sadar kalau manusia bukanlah udang pasar.
Sang penulis hanya mencoba membuatmu menerawang semua permasalahan di negara namun kamu adalah bagaikan seorang pemburu harta karun yang hanya menargetkan harta karun, bukan rusa. Di sini penulis mengarahkan bidikanmu ketarget permasalahan terbesar di negara kita “Korupsi”.
Dan negara kita memang benar-benar sedang berinvestasi saham besar-besaran, bukan saham baik. Negara kita sedang menanam saham rekor untuk terus maju menjadi sang Champion “negara dengan kasus korupsi terbanyak di dunia”. Dan satu lagi investasi itu telah membuat proker “pembangunan lumbung tikus berdasi”. Ohh... Sungguh membanggakan bagi mereka para tikus yanh bercukur klimis alias angket koruptor bangsa.
Salam lestari kawal negeri dengan informasi dan sejukkan hati dengan literasi.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H