Selain itu, membaca juga menjadi sarana pelarian yang memungkinkan wallflower merenung dan memikirkan hal- hal secara mendalam.Â
Mereka dapat menjelajahi berbagai konsep, ide, dan pandangan dari penulis- penulis terkemuka. Dalam ketenangan yang diciptakan oleh kegiatan membaca, mereka merasa bebas untuk mempertanyakan, merenung, dan menggali pemahaman yang lebih dalam tentang dunia di sekitar mereka.
Tidak hanya itu, membaca juga memberikan manfaat kesejahteraan internal bagi para wallflower. Keheningan yang disertai dengan imersi dalam kata- kata tulisan membantu meredakan stres dan kegelisahan yang seringkali menyertai kehidupan ultramodern.Â
Aktivitas membaca dapat menjadi bentuk terapi yang menyegarkan pikiran, memberikan ketenangan jiwa, dan memulihkan energi yang telah terkuras oleh tuntutan kehidupan sehari- hari.
Dosen Senior dari Fakultas Psikologi,Dr. Anna Kusuma, menyebutkan bahwa dunia membaca telah menjadi cara banyak orang wallflower dalam mempelajari diri mereka sendiri dan memanfaatkan waktu.Â
"Dunia membaca bisa menjadi tempat wallflower untuk mempelajari diri mereka sendiri dan memahami diri mereka. Dalam keheningan, mereka bisa menikmati waktu untuk diri sendiri dan mempelajari diri mereka dengan lebih dalam," jelasnya.
Anna melalui penelitiannya, menemukan bahwa dunia membaca bisa menjadi terapi untuk seseorang wallflower dalam mencari ketenangan dan keseimbangan.Â
Jika seseorang wallflower, tidak perlu khawatir dengan keheningann tersebut, karena justru itu yang membuat mereka memahami diri mereka sendiri secara lebih dalam. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa tantangan tetap ada.
Di period digital ini, banyak godaan yang mengalihkan perhatian dari dunia membaca, seperti media sosial dan hiburan digital lainnya.Â
Bagi para wallflower, menemukan waktu yang cukup dan tempat yang tenang untuk membaca dapat menjadi tantangan tersendiri.Â
Namun, dengan kesadaran dan disiplin diri, mereka dapat menciptakan ruang dan waktu yang tepat untuk melarikan diri ke dunia membaca.