"Aamiin. Nanging gendhis abritipun taksih kathah mbah." (Tapi gulanya masih banyak mbah)
"Mboten menopo. Mangke nggih telas. Menawi mboten telas mbenjing saged dipun sade malih." (Tidak apa-apa. Nanti juga habis. Kalau gak habis besok dijual lagi)
"Nggeh sampun. Si mbah ingkang sehat nggih." (Ya sudah, simbah yang sehat ya)
Aku tersenyum dan meninggalkannya. Namun hati ini terasa sejuk melihat senyum lebar dan tulus juga menghiasi wajah simbah.
 Jargon bahagia itu sederhana, itu betul sekali. Kebahagiaan tidak bisa dibeli. #BerbagiBahagia tidak musti dengan sesuatu yang wah, hanya butuh keikhlasan.
Orang-orang seperti simbah, mereka sepuh tapi tangguh, pantang meminta selama fisik prima.
Pastinya mereka lelah tapi hidup terus berjalan. Jika pekerjaan paling berat sekalipun di kerjakan dengan ikhlas pasti lebih ringan. Semoga laris terus dagangannya mbah.
Apa pelajaran yang saya dapat dari kejadian itu?
Pertama bahwa saya harus bersyukur atas apa yang saya miliki. Semua orang berada di atas ketentuan Tuhan dan itu yang terbaiknya menurutNya. Kita hanya patut menjalaninya dengan sabar dan syukur.
Kedua, belilah barang jualan dari pedagang kecil. Sering kita dapat share potongan gambar, quote, bahwasanya mereka jualan bukan untuk mencari kekayaan tapi untuk bertahan hidup. Tersentuh membacanya. Mereka memang patut diacungi jempol atas kehebatannya berjuang.Â
Di usia yang tak lagi muda, pantang menyerah mengumpulkan rupiah. Jadi belilah meski sedikit, atau mungkin barang tersebut belum dibutuhkan tapi penghargaan atas keringat mereka patut dihargai.