Aku sudah mempersiapkan diri untuk menjadi pemateri (speaker) di sebuah workshop yang diadakan oleh aktivis kampus negeri ternama di Bandung. H-1 acara, paginya, sang panitia sudah intens berkomunikasi via chating. Bahkan, sekaligus meminta file materi untuk disimpan ke komputer mereka.
Tapi, hal tersebut tiba-tiba saja berubah ketika corona berulah dan membuat petinggi-petinggi membuat surat edaran pelarangan acara yang melibatkan massa. Ok, malam harinya aku dihubungi bahwa workshop tersebut dengan sangat terpaksa harus dibatalkan. Nyesek? Pasti! Apalagi (mungkin) para peserta yang sudah membayar mahal dan panitia yang sudah menyiapkan segala persiapan acara di esok hari.
Ya, it's ok! Belum saatnya aku menjadi pemateri saat itu. Lagipula, kesehatan semua orang itu adalah penting. Mana, saat itu pun aku dalam kondisi batuk-pilek. Tapi, aku yakin itu bukan karena Corona karena dari riwayat dan gejalanya, tidak menjurus ke sana.
Sampai sekarang ini, ramai sekali diberitakan bahwa CQ adalah obat covid-19. Satu, dua, tiga negara dicap sudah membuktikan bahwa beberapa pasiennya berhasil sembuh dari penyakit ini. Indonesia pun ikut latah. Dengan senangnya, pemerintah mendatangkan obat tersebut sebagai penangkal si penyakit menyeramkan ini.
Aku tak mengerti dengan maksud pemerintah yang langsung mendatangkan atau memesan obat tersebut dalam jumlah besar tanpa uji coba sendiri. Masyarakatnya pun ikut latah.
Berbondong-bondonglah mereka ke Apotek dan membeli si CQ ini. Ada yang satu strip, hingg berbox-box. Panic buying? Tentu. Bukan hanya pada bahan pangan dan alat kesehatan (masker dan hand sanitizer) saja masyarakat latah memborong, obat yang baru "dianggap" saja mereka langsung menyerbunya.
Lantas, apa sebenarnya Chloroquine ini benar-benar efektif untuk menangani kasus Covid-19 yang tengah marak ini?
Chloroquine; Obat VS Penenang SosialÂ
Dari segi fungsi obat, jelas belum ditemukan uji klinis yang benar-benar efektif menyebutkan bahwa obat ini cocok untuk mengobati virus. Di samping, penyakit yang disebabkan karena virus, tentu harus diobati dengan anti virus itu sendiri. Meskipun demikian, beberapa negara ada yang menyatakan bahwa obat ini bisa digunakan untuk obat wabah saat ini. Hal itu dikemukakan oleh seorang peneliti China dan sudah dipublikasikan oleh Bio Science Trend.
Mengenai CQ, obat ini memang mengandung antivirus dan antiinflamasi. Sehingga CQ bisa mengatasi infeksi virus dalam tubuh, meningkatkan citra paru, melakukan perawatan gejala pneumonia, hingga mempercepat status virus menjadi negatif. Di lain kasus, obat CQ ini pun bisa menakan respon imunitas tubuh sehingga mampu mengatasi beberapa gejala yang ditimbulkan pada penyakit autoimun.
Lantas, bagaimana dengan keefektifan obat CQ pada penderita covid-19? Pada dasarnya, obat ini memang bisa menjadi antivirus karena kandungan di dalamnya seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.