Mohon tunggu...
Viradyah LulutSantosa
Viradyah LulutSantosa Mohon Tunggu... Relawan - sedang menyeimbangkan pola tidur dan pola makan

mahasiswa

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Berbagi Perspektif Mengenai Nikah Muda

9 November 2021   13:19 Diperbarui: 9 November 2021   13:58 125
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Menikah muda di masa pandemi masih jadi perbincangan hangat, sampai-sampai saat saya audiensi dengan KPAI beberapa waktu yang lalu. Pihaknya menyoroti pencegahan pernikahan usia anak.

Pasalnya, berdasarkan UU No.1/1974 tentang Perkawinan, usia minimal perempuan menikah yakni 16 tahun dan pria 19 tahun. Sementara, BKKBN menganjurkan, usia ideal perempuan menikah adalah minimal 21 tahun dan pria 25 tahun.

Akan tetapi dalam literatur islam tidak ada ketetapan minimal dalam menikah.

Terlepas dari itu, angka talak atau perceraian di Indonesia kerap terjadi pada pasangan muda. Tak ayal hal itu menjadi pertimbangan kuat beberapa kelompok yang kontra terhadap nikah muda.

Ada pula kelompok yang pro, Mereka menganalogikan, jika perempuan menikah di usia yang tua sama halnya dengan buah mangga yang jatuh dari pohon lalu tertindas kendaraan sehingga berbentuk penyet dan bau busuk alias tidak laku.

Lantas Bagaimana Respon Islam Dalam Menanggapi Nikah Muda?

Islam menekankan pernikahan yang sakinah. Meskipun ada beberapa riwayat yang sering diperselisihkan mengenai pernikahan nabi. Seperti Nabi nikah muda, Nabi banyak istri, dan lain-lain. Dalam youtube Abu Quraish Shihab, beliau menitipkan pesan ‘’Jangan jadikan pernikahan nabi sebagai alasan untuk melakukan’’. Kenali dulu case nya.

Maraknya Kampanye Nikah Muda

Kampanye ‘’Nikah muda’’ yang berkembang hari ini, tidak seharusnya dimaknai sebatas ‘’Dari pada zina kita menikah saja’’. Kelompok yang meyakini perspektif tersebut berharap bisa menyelesaikan problem moral dan menjadi solusi praktik “seks bebas”.

Di usia saya yang hampir menginjak seperlima abad, mindset demikian sama halnya mengobati penyakit dengan racun. Sebab menikah juga-sebagaimana perjalanan ibadah seumur hidup. Jika hanya sekadar ‘kawin’ untuk melanjutkan keturunan dengan longgar, makhluk tak berakal pun bisa.

Kapan Waktu yang Tepat untuk Menikah?

Menikah tidak hanya menghalalkan apa yang diharamkan, lebih dari itu, menikah harus mempersiapkan mental, biologis, finansial dan masih banyak lagi. Proses menikah itu adalah saling memantaskan diri, supaya kita tidak hanya berharap pasangan melengkapi kita saja. Melainkan kita sama-sama saling melengkapi satu sama lain (bahagia atas bahagianya kita) atau yang disebut bahagia setara. Selain itu juga saling mengawal cita-cita bersama.

Menikah usia muda dengan alasan takut berzina akan berpotensi melahirkan anak-anak yang tidak terdidik dan memungkinkan berujung pada spektrum kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT). Lantaran, kedewasaan intelektual dan kematangan berpikir sangat dibutuhkan untuk membina keluarga.

Bagi saya, menikah bukan soal umur tetapi kesiapan seperti yang telah saya bahas pada paragraf sebelumnya. Perlunya pemaknaan ulang atas kampanye nikah muda, tidak hanya dimaknai sebagai solusi atas kepanikan moral yang dialami negara dan agama.

Semua orang bebas memilih hidup di jalannya masing-masing. Nikah muda tidak melulu diasosiasikan ke dalam ranah buruk, begitupun dengan nikah tua. Tidak perlu hanyut dengan budaya yang terbentuk dari konstruksi sosial atau kerap disebut ikut-ikutan standar orang lain.

Sekali lagi, melalui tulisan ini saya tidak ingin menjadi manusia yang nantinya paling siap menikah, Tapi setidaknya saya ingin mengajak untuk sama-sama memberikan ruang untuk berpikir bahwa kehidupan rumah tangga tidak semudah membalikkan tangan.

 

Referensi

BKKBN Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi, Pendewasaan Usia Perkawinan dan Hak-Hak Reproduksi bagi Remaja Indonesia Perempuan. Jakarta: 2010.

Tsamrotun Kholilah. Analisis Hukum Islam terhadap Pandangan Ahli Medis Tentang Usia Perkawinan Menurut Pasal 7 ayat 1 & 2 UU No.1 tahun 1974. Skripsi, tidak diterbitkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun