Oke, kita bahas satu-satu supaya jelas.
Gibran Rakabuming Raka
Aktivitas politiknya dimulai tahun 2019. Tepatnya 23 September 2019, saat dia bergabung dengan (menjadi anggota) PDIP. Beberapa bulan kemudian, dia dicalonkan dalam Pilkada Walikota Solo tahun 2020 oleh PDIP, dan berhasil menjadi Walikota Solo.
'Keberhasilannya' menjadi kandidat dan kemudian menang (menjadi walikota) dalam beberapa bulan, kalau terjadi pada orang biasa, tentu itu merupakan prestasi politik yang sangat luar biasa.
Tapi saya tidak menganggapnya prestasi. Mengapa? Tentu saja karena faktor Sang Ayah. Previlege yang dimiliki Jokowi telah memuluskan nama Gibran tercatat dalam SK yang ditandatangani Megawati sebagai calon walikota Solo. Padahal, jauh sebelum Gibran daftar sebagai anggota, PDIP telah menyiapkan kader seniornya sebagai calon walikota Solo, Achmad Purnomo.
Kemudian, baru 2 tahun menjabat sebagai walikota, karir politiknya melejit setelah resmi menjadi pasangan Prabowo Subianto dalam Pilpres tahun depan. Apakah pencapaian itu juga sebuah prestasi? Menurut saya, No! Mengapa? Lagi-lagi, karena faktor Sang Ayah.
Kaesang Pangarep
Setali tiga uang dengan Sang Kakak. Bahkan apa yang diraih Sang Adik lebih luar biasa. Belum ada dalam sejarah politik Indonesia, seorang yang baru bergabung dengan sebuah partai politik lalu, dalam dua hari, menjadi ketua umum.
Apakah pencapaian Kaesang -- menjadi ketua umum -- itu sebuah prestasi? Untuk ketiga kalinya saya harus menjawab, No! Kenapa? Lagi-lagi faktor Sang Ayah.
Partai Solidaritas Indonesia (PSI) boleh-boleh saja beragumen bahwa itu adalah cara anak muda berpolitik. Tapi, dianggap wajar saja kalau yang diambil ciri anak muda itu suka yang instant. Walaupun urusan ketua umum Parpol itu tidak sesederhana menyeduh mie instan.
Jadi untuk keduanya, Gibran dan Kaesang, saya bukan hanya tidak menganggap prestasi apa yang mereka capai. Tapi juga menganggap keduanya tidak mewakili style Gen Z. Belum layak disebut sebagai tokoh politik anak muda.