Mohon tunggu...
Urip Widodo
Urip Widodo Mohon Tunggu... Peg BUMN - Write and read every day

Senang menulis, membaca, dan nonton film, juga ngopi

Selanjutnya

Tutup

Kurma

Gara-gara Sebutir Nasi

18 April 2023   10:38 Diperbarui: 18 April 2023   10:41 187
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi Si Dogol/sumber: ibupedia

Si Dogol -- yang masih kelas 4 SD -- terkenal sekampung kenakalanya. Maklum, sejak kedua orangtuanya meninggal saat dia berumur 7 tahun, Si Dogol tinggal dengan kakeknya. Sepertinya hampir semua anak sebayanya pernah menangis oleh kenakalannya. Yang jadi korban kenakalannya sebenarnya tidak hanya anak-anak sebayanya. Para orang tua dan dewasa pun pernah dibuat heboh oleh kenakalan Si Dogol.

Misalnya, di suatu malam di bulan Ramadan tahun yang lalu, pernah kejadian jamaah selanggar heboh setelah selesai salat tarawih.

Gara-garanya Si Dogol merapikan sandal-sandal Jemaah yang sedang salat tarawih.

Lho, drapikan kok jadi heboh? Itu mungkin pertanyaan Anda.

Masalahnya, Si Dogol memasangkan sandal-sandal itu tidak dengan pasangannya, tapi ditukar-tukar. Sandal jepit merah dipasangkan dengan sandal jepit warna biru. Sandal kulit warna coklat dipasangkan dengan sandal kulit warna hitam. Semua sandal tersusun rapi dengan posisi siap pakai di depan pintu masjid, tapi dengan kondisi ditukar-tukar.

Bisa dibayangkan kehebohan jamaah saat keluar langgar dan hendak memakai sandalnya. Si Dogol senyum-senyum sendiri di bawah beduk, melihat keributan yang terjadi.

Kenakalan lainnya. Di suatu malam yang lain, masih saat salat tarawih, Si Dogol -- tanpa sepengetahuan yang memakai -- mengikat sarung-sarung kelima orang temannya yang berdiri salat di depannya. Karuan saja, saat salat selesai dan hendak keluar langgar, kelimanya saling tarik-tarikkan, bahkan sampai ada yang terjatuh. Pelakunya, Si Dogol, entah kemana.

Yang paling menghebohkan adalah kenakalan Si Dogol menjelang akhir bulan puasa. Entah dapat petasan dari mana, saat salat tarawih dia menyalakan petasan dan melemparkannya ke kolong langgar, -- langar berbentuk panggung setinggi setengah meter -- karuannya saja jamaah yang sedang khusyu salat terkaget-kaget.

Tapi di tahun ini semua warga kampung kaget. Si Dogol bilang ke teman-temannya bahwa Ramadan sekarang dia akan ikut puasa dan tidak akan nakal lagi. Warga bertanya-tanya siapa gerangan yang memberi nasihat pada Si Dogol, sehingga dia mau berubah.

Betul saja, malam pertama salat tarawih berjalan tertib. Tidak ada kejadian menghebohkan gara-gara ulah Si Dogol. Warga semakin yakin kalau Si Dogol telah berubah.

Keesokan harinya pun warga melihat Si Dogol berpuasa. Dia terlihat kalem dan ikut bermain bersama teman-temannya yang sudah biasa berpuasa.

Tapi ternyata ketenangan itu tidak bertahan lama. Hanya bertahan sampai tengah hari. Lewat tengah hari, semua warga heboh lagi, termasuk teman-teman Si Dogol. Tapi kehebohan kali ini bukan karena kenakalan Si Dogol, sehingga tidak mengundang jengkel warga. Malah mengundang senyum, bahkan tidak sedikit yang tertawa.

Pasalnya, saat warga dan anak-anak salat Zuhur di langgar, Si Dogol tidak terlihat. Tapi itu tidak membuat mereka aneh, karena sudah biasa Si Dogol kadang ikut salat, kadang tidak.

Yang membuat heboh adalah saat sebagian orang selesai salat,  pulang dari langgar, dan melewati pos ronda. Mereka melihat Si Dogol sedang duduk sendirian. Saat didekati, warga menahan tawa, ada yang cuma tersenyum, kemudian bertanya, "Dogol, kamu masih puasa?"

"Iyalaaah ... puasa," jawab Si Dogol singkat, seraya bergeming dalam duduknya.

Tak mau berpanjang tanya, warga pun meninggalkannya di pos ronda. Apa yang membuat warga menahan tawa melihat Si Dogol?

Rupanya ada sebutir nasi di atas bibir Si Dogol.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kurma Selengkapnya
Lihat Kurma Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun