Bergegas kami semua bangun, mandi dan salat subuh berjamaah.Â
***
Jam pertama, berlangsung tanpa kesulitan yang.berarti.Syukurlah, yang kupelajari tadi malam, keluar dalam ulangan. Dan aku yakin jawabanku banyak yang benar. Kalau mata pelajaran umum, rasanya masih bisa kuhandle. Yang masih tanda tanya adalah pejalan agama dan sejenisnya, terlebih bahasa arab. Sayangnya tak ada lembaga kursus bahasa arab.Â
Waktu istirahat cukup panjang , aku baru ingat kalau tadi pagi cuma sarapan jajan dua biji.dan segelas susu.Rasanya perutku sekarang berdendang kroncongan minta diisi. Supaya di jam ke dua bisa menambah energi dan berfikir segar kembali. Â
"Wul, sarapan ke bu Dewi yuk " kupanggil Wulan yang ada di ruang sebelah.Â
"He he he, bu Dewi terus maunya, .kangen sama hem hem ya? " Wulan menggoda.Â
"Ssst. . . " jari telunjukku memberi isyarat di bibir, sambil tengok kanan kiri, jangan sampai ada yang mendengar.Â
Eh, sampai di warung bu Dewi, kok malah ketemu Pak Ahim, justru yang disebut Wulan hem hem, tak kelihatan batang hidungnya. Putra Bu Dewi yang sekolahnya siang di STM. Kalau pagi biasanya membantu di warung, yang membuat minuman. Kami sudah cukup akrab, aku salut, dia tak merasa malu membantu ibunya di warung.Â
"Halo, apa kabar, yang baru datang dari Banyuwangi? " sapa Pak Ahim dan mengundang kami duduk di mejanyaÂ
"Alhamdulillah, baik Pak " berdua kami gantian menyalami Pak Ahim.Â
"Pak Ahim, mengawas di ruang berapa? saya di ruang V dan mbak Yow, di ruang VI " Wulan tetiba nyeletuk. Padahal aku juga hampir bertanya hal yang sama. Bayanganku, kalau pengawas ujiannya guru magang, gak terlalu ketat.Â