Mohon tunggu...
Ujang Ti Bandung
Ujang Ti Bandung Mohon Tunggu... Wiraswasta - Kompasioner sejak 2012

Mencoba membingkai realitas dengan bingkai sudut pandang menyeluruh

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Apa "Dosa" Seorang Immanuel Kant?

8 Januari 2020   09:15 Diperbarui: 8 Januari 2020   11:47 448
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Images : daulatkata.blogspot.com

Memang tidak semua system filsafat bersifat mempersempit gerak langkah akal,para failosof klasik justru banyak menemukan kategori kategori serta system yang justru dapat memperluas, yang 'pure reason' istilahnya.tapi apa daya di era Immanuel kant rasionalitas pure reason itu dibatasi karena dianggap melahirkan proposisi proposisi metafisis yang sudah tidak ilmiah dan puncaknya di era filsafat kontemporer konsep metafisika hasil olah fikir para failosof klasik itu malah di dekonstruksi.

Sehingga sebenarnya lebih sulit memahami agama di ranah filsafat kontemporer ketimbang di ranah filsafat klasik, karena di ranah filsafat kontemporer peralatan ilmah yang menopang rasionalitas yang diantaranya dapat digunakan untuk menjelaskan persoalan ketuhanan dan konsep konsep Ilahiah itu sudah tak dijadikan parameter keilmuan yang utama lagi

................

Apakah Immanuel kant 'ikut berdosa' ?

Kalau kita cermati dan dalami kitab suci maka disana tak ada deskripsi bahwa rumusan akal harus berdasar pengalaman langsung tidak sebagaimana system metafisika yang ada dibuat manusia dalam dunia filsafat

Karena Tuhan tahu bahwa persoalan metafisika yang dihadapi oleh manusia itu teramat kompleks meliputi wilayah yang dapat dialami dan wilayah yang tidak dapat dialami sehingga bila membatasi cara kerja akal dengan prinsip empirisme maka otomatis jalan akal menuju persoalan metafisika yang sudah berada diluar pengalaman akan tertutup dan wilayah diluar pengalaman itu pun akan menjadi wilayah mysteri yang seolah mustahil diketahui

Dan artinya bagaimana cara agar akal itu bisa leluasa dapat menerabas serta lalu mengolah dan mengelola persoalan persoalan metafisis yang sudah berada diluar wilayah pengalaman tentu akal harus dibekali dengan prinsip prinsip keilmuan yang non empiris

Sehingga kalau ada orang yang mendeskripsikan rasionalitas,prinsip akali,konsep kebenaran menurut akal TAPI metodologi yang ia gunakan murni hanya mengacu pada kaidah empirik-sainstifik,murni hanya mengacu pada unsur pengalaman maka artinya ia telah melakukan mal fungsi akal dan telah melakukan modifikasi terhadap akal sehingga akal menjadi sulit menerabas persoalan persoalan metafisis yang lebih bersifat kompleks dan ini tentu berlawanan dengan prinsip agama dalam mengelola akal

Dengan kata lain,menurut sang penciptanya akal itu berfungsi untuk memahami persoalan keilmuan baik yang bersifat fisik maupun metafisik,untuk merumuskan atau memahami baik kebenaran yang bersifat empiris maupun rasionalistik

Sehingga kalau akal atau cara kerja akal itu misal harus dibatasi oleh unsur pengalaman maka jelas akal tak akan bisa bekerja menerabas persoalan metafisika yang sudah berada di luar wilayah pengalaman

Sedang sebagaimana kita ketahui bahwa dalam agama kita akan dibawa oleh Tuhan menerabas persoalan persoalan metafisika yang sudah berada diluar wilayah pengalaman dan untuk hal ini filsafat dapat membantu untuk menemukannya disamping peralatan keilmuan yang berasal dari kitab suci tentunya

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun